BISNISMARKET.COM - PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) telah menetapkan target kinerja yang cukup ambisius untuk tahun 2026, menunjukkan optimisme kuat terhadap prospek bisnis mereka di sektor konstruksi. Perseroan secara spesifik menargetkan nilai kontrak baru yang dapat diraih hingga akhir tahun 2026 mencapai angka fantastis sebesar Rp4 triliun.

Hingga bulan April 2026, perusahaan konstruksi ini telah berhasil mengamankan kontrak senilai kurang lebih Rp2,6 triliun, menandakan awal tahun yang sangat produktif. Angka ini merupakan peningkatan signifikan dibandingkan pencapaian pada akhir kuartal I 2026, di mana mereka mencatatkan perolehan kontrak sebesar Rp1,5 triliun.

Proyek-proyek yang saat ini menjadi fokus utama TOTL meliputi pembangunan infrastruktur penting seperti gedung data center, hotel, serta berbagai fasilitas perkantoran. Perlu dicatat bahwa seluruh portofolio pengerjaan yang sedang ditangani oleh perusahaan saat ini berasal dari sektor swasta.

Dalam aspek keuangan, TOTL memproyeksikan pendapatan konsolidasi untuk tahun 2026 berada di angka Rp3,90 triliun. Selain itu, manajemen juga menargetkan laba bersih yang sehat, yakni mencapai Rp400 miliar pada akhir periode fiskal tahun tersebut.

Moeljati Soetrisno, Direktur TOTL, menjelaskan bahwa strategi kunci perusahaan untuk mencapai target tersebut ditopang oleh sisa kontrak atau backlog dari tahun sebelumnya yang jumlahnya cukup besar, yaitu sekitar Rp3 triliun. Hal ini memberikan landasan kuat bagi arus kerja ke depan.

"Kami tetap melakukan kehati-hatian untuk mengambil proyek dengan melihat market yang begini volatil," ujar Moeljati dalam sesi paparan publik yang diselenggarakan di Jakarta pada hari Rabu, 6 Mei 2026.

Untuk menunjang kelancaran operasional dan mendukung proyek-proyek yang sedang berjalan, TOTL telah mengalokasikan anggaran belanja modal atau capex sebesar Rp25 miliar untuk tahun ini. Alokasi ini menunjukkan peningkatan substansial dibandingkan anggaran capex tahun 2025 yang hanya sebesar Rp10 miliar.

Kevin Alexander, Investor Relations TOTL, merinci bahwa penggunaan dana capex akan difokuskan pada pembaruan dan pengadaan alat berat proyek, serta investasi pada perangkat lunak dan keras terkait teknologi informasi. Seluruh pendanaan capex ini dipastikan berasal dari sumber internal perusahaan.

"Penggunaannya masih tetap sama untuk alat-alat berat proyek, lalu ada software dan hardware dari IT," kata Kevin Alexander.