JAKARTA, BisnisMarket.com – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Dampak instan dari peristiwa ini adalah meroketnya harga minyak mentah dunia yang kini mengancam stabilitas harga BBM di dalam negeri.
Hanya dalam hitungan hari sejak serangan dimulai, harga minyak mentah jenis Brent melonjak signifikan melampaui level US$81 per barel pada Selasa (3/3/2026). Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran global akan terganggunya jalur distribusi energi paling vital di dunia: Selat Hormuz.
Mengapa Perang Iran-Israel Berdampak Langsung?
Iran memiliki posisi strategis dalam peta energi dunia. Ada dua alasan utama mengapa konflik ini membuat harga minyak "kebakaran":
Blokade Selat Hormuz: Sekitar 20% pasokan minyak dunia melintasi jalur sempit ini setiap harinya. Ancaman Iran untuk menutup selat tersebut sebagai balasan serangan AS-Israel membuat pasar panik.
Risiko Infrastruktur: Serangan balasan Iran yang menyasar aset energi di negara-negara tetangga (seperti fasilitas di Arab Saudi dan UEA) meningkatkan risiko kelangkaan pasokan global secara mendadak.
Dampak bagi Indonesia: Subsidi Jebol?
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan sinyal kuat bahwa Indonesia harus bersiap menghadapi konsekuensi ekonomi. Sebagai negara net importer (pengimpor bersih) minyak, kenaikan harga dunia adalah beban berat bagi APBN.