Yogyakarta - Pernahkah Anda merasa suara kebenaran yang Anda perjuangkan justru menjadi bumerang? Inilah yang dialami oleh seorang pemimpin mahasiswa berani dari UGM. Simak kisah selengkapnya!
Ketua BEM UGM Bersuara Lantang
Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, baru-baru ini mengalami serangkaian kejadian yang membuatnya merasa tidak aman. Setelah menyuarakan kasus tragis seorang anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakhiri hidupnya karena kesulitan ekonomi, Tiyo justru mendapatkan teror dan intimidasi.
Teror Mencekam: Ancaman Penculikan!
Tiyo mengungkapkan bahwa dirinya menerima ancaman penculikan melalui pesan dari nomor tak dikenal. "Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik," ujarnya kepada Kompas.com, Jumat (13/2/2026). Ancaman ini tentu saja membuat Tiyo dan rekan-rekannya merasa khawatir dan waspada.
Dikuntit Bak Mata-Mata
Tidak hanya ancaman, Tiyo juga mengalami penguntitan oleh dua orang tak dikenal pada Rabu (11/2/2026). Saat berada di sebuah kedai, ia merasa diikuti oleh dua pria dewasa dengan postur tubuh tegap. "Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda," jelasnya. Meskipun sempat berusaha mengejar, kedua orang tersebut berhasil menghilang.
Ada Apa dengan Kasus Anak NTT?
Kasus yang disuarakan oleh Tiyo adalah tragedi seorang anak berusia 10 tahun di NTT yang bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis seharga kurang dari Rp 10.000. BEM UGM bahkan mengirimkan surat resmi kepada UNICEF untuk menyoroti masalah ini. Dalam suratnya, Tiyo menulis, "What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book ?". Ia menekankan bahwa kejadian ini adalah akibat dari kegagalan sistemik dan negara dalam melindungi warganya yang paling rentan.