BISNISMARKET.COM - PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau dikenal sebagai Superbank, berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang sangat impresif pada kuartal pertama tahun 2026. Bank digital ini membukukan laba bersih sebesar Rp78,19 miliar dalam periode Januari hingga Maret 2026.

Pencapaian laba ini menunjukkan lonjakan fantastis hingga 31.051% jika dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal I 2025 yang hanya tercatat sebesar Rp251 juta. Hal ini menandakan akselerasi pertumbuhan yang signifikan bagi bank yang berfokus pada ekosistem digital tersebut.

Pertumbuhan laba yang luar biasa ini, sebagaimana dipublikasikan pada Selasa (28/4/2026), ditopang oleh peningkatan tajam pada pendapatan bunga bersih. Superbank mencatat pendapatan bunga bersih mencapai Rp503,32 miliar pada kuartal I 2026, sebuah peningkatan signifikan dari Rp262,99 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Total pendapatan bunga perusahaan juga mengalami kenaikan substantial, realisasinya mencapai Rp724,65 miliar, melampaui capaian Rp366,45 miliar pada kuartal awal tahun 2025. Kontributor utama dari pertumbuhan pendapatan ini adalah penyaluran kredit yang berhasil diberikan kepada pihak ketiga.

Dikutip dari data tersebut, peningkatan profitabilitas juga didukung oleh efisiensi operasional yang semakin membaik, terbukti dari rasio biaya terhadap pendapatan atau Cost to Income Ratio (CIR) yang berhasil ditekan hingga 57,19%. Pendapatan operasional lainnya pun turut berkontribusi, naik menjadi Rp26,39 miliar dari posisi sebelumnya Rp19,51 miliar.

Meskipun demikian, beban operasional Perseroan tercatat meningkat menjadi Rp429,34 miliar dari periode sebelumnya sebesar Rp282,25 miliar, terutama dipicu oleh beban tenaga kerja Rp119,72 miliar dan kerugian penurunan nilai aset keuangan senilai Rp125,67 miliar. Selain itu, beban bunga juga naik menjadi Rp221,32 miliar, namun pertumbuhan pendapatan bunga yang lebih tinggi berhasil menjaga profitabilitas tetap solid.

Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, memberikan pandangan positif mengenai hasil ini, menegaskan bahwa strategi pembangunan bank digital berbasis ekosistem telah menunjukkan buahnya.

"Pertumbuhan yang kami capai tidak hanya cepat, tetapi juga berkualitas. Fundamental kami semakin kuat didukung tingkat kepercayaan nasabah yang terus meningkat," ujar Tigor M. Siahaan dalam siaran persnya.

Dari sisi neraca keuangan, kekuatan permodalan Superbank menunjukkan soliditas yang tinggi, di mana total aset melonjak 70,54% secara tahunan (YoY) menjadi Rp23,95 triliun per 31 Maret 2026, dibandingkan Rp21,28 triliun pada akhir 2025. Penyaluran kredit tumbuh 50,34% YoY menjadi Rp11,43 triliun, didorong oleh penetrasi layanan digital dan produk Pinjaman Atur Sendiri (PAS), sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) melonjak 103,89% YoY mencapai Rp14,44 triliun.