BISNISMARKET.COM - Memasuki awal tahun 2026, dinamika pasar properti di Indonesia menghadapi tantangan yang cukup signifikan akibat fluktuasi ekonomi. Kondisi ini mulai dirasakan secara nyata oleh para pelaku industri perbankan yang selama ini fokus pada pembiayaan hunian bagi masyarakat.
Salah satu institusi yang mencermati perubahan tren ini adalah KB Bank, yang mencatatkan adanya perlambatan pada penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Fenomena tersebut disinyalir terjadi sebagai dampak langsung dari melemahnya daya beli masyarakat yang terjadi sepanjang kuartal pertama tahun ini.
Meski harus menghadapi situasi pasar yang cukup menantang, pihak bank tetap mematok target pertumbuhan yang optimis untuk portofolio kredit mereka secara keseluruhan. Strategi ekspansi tetap dijalankan guna menjaga momentum pertumbuhan perusahaan di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi makro.
"Kami menargetkan pertumbuhan kredit secara keseluruhan pada tahun 2026 mendatang tetap berada di kisaran angka 12 persen hingga 15 persen," ujar pihak manajemen KB Bank.
Angka target tersebut menunjukkan bahwa perusahaan masih melihat adanya peluang ekspansi yang besar di berbagai sektor lainnya. Diversifikasi penyaluran kredit menjadi langkah krusial bagi bank dalam menjaga stabilitas neraca keuangan mereka agar tetap sehat.
Namun, khusus untuk sektor properti yang menjadi motor penggerak utama, KB Bank memutuskan untuk melakukan penyesuaian target yang lebih moderat. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi risiko kredit yang mungkin muncul akibat tekanan ekonomi pada tingkat konsumen.
"Terkait kontribusi dari sektor KPR, kami memproyeksikan pertumbuhan akan bergerak di kisaran 6 persen sampai 8 persen saja," kata pihak manajemen KB Bank.
Penyesuaian target ini, sebagaimana dilansir dari sumber internal industri, mencerminkan sikap kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan dana kepada masyarakat. Fokus utama perusahaan kini beralih pada penguatan kualitas kredit dibandingkan sekadar mengejar kuantitas penyaluran semata.
Pelemahan daya beli yang terjadi di Kuartal I-2026 memang memaksa banyak calon debitur untuk meninjau ulang rencana pembelian properti mereka. Hal ini memberikan dampak yang cukup terasa pada kecepatan penyerapan kredit rumah di pasar ritel secara nasional.