Mata uang Garuda harus rela menutup perdagangan pekan ini dengan koreksi tipis di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan sesi Jumat (27/2) sore, nilai tukar rupiah terparkir di level Rp16.787 per dolar AS. Pelemahan ini mencatat penurunan sebesar 28 poin atau setara dengan 0,17 persen dibandingkan dengan posisi pada perdagangan sebelumnya.

Sejalan dengan pasar spot, nilai tukar referensi Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan tren serupa bagi mata uang domestik. Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menetapkan posisi rupiah di angka Rp16.779 per dolar AS pada hari yang sama. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang masih membayangi stabilitas nilai tukar nasional di penghujung bulan Februari.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau sangat bervariasi dan cenderung fluktuatif selama jam perdagangan berlangsung. Yen Jepang dan baht Thailand berhasil menguat masing-masing sebesar 0,06 persen dan 0,23 persen terhadap greenback. Namun, yuan China serta peso Filipina justru mengalami nasib serupa rupiah dengan pelemahan tipis pada sore hari ini.

Analis Mata Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan pandangannya terkait faktor utama yang menekan nilai tukar hari ini. Ia menjelaskan bahwa rupiah ditutup melemah di tengah merebaknya sentimen risk off yang terjadi di pasar ekuitas global. Kondisi pasar yang kurang kondusif membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset-aset berisiko tinggi untuk sementara waktu.

Selain faktor eksternal, para pemodal saat ini sedang dalam posisi menunggu atau wait and see terhadap kondisi internal Indonesia. Lukman Leong menambahkan bahwa investor mengantisipasi serentetan data ekonomi krusial yang dijadwalkan rilis pada Senin mendatang. Data tersebut mencakup angka inflasi, kinerja sektor manufaktur, hingga laporan neraca perdagangan nasional yang sangat dinantikan.

Di sisi lain, mayoritas mata uang utama negara maju justru menunjukkan performa gemilang dengan berada di zona hijau. Euro Eropa terpantau terapresiasi 0,17 persen, sementara poundsterling Inggris dan franc Swiss masing-masing menguat 0,12 persen serta 0,23 persen. Dolar Australia dan Kanada pun tidak ketinggalan mencatatkan kenaikan signifikan di tengah gejolak pasar keuangan global.

Stagnasi juga terlihat pada dolar Hong Kong yang tidak menunjukkan pergerakan berarti hingga penutupan perdagangan sore ini. Sebaliknya, won Korea Selatan dan dolar Singapura masing-masing berhasil mencatatkan penguatan sebesar 0,32 persen serta 0,20 persen. Fokus pasar kini tertuju sepenuhnya pada rilis data ekonomi awal pekan depan untuk menentukan arah pergerakan rupiah selanjutnya.

Sumber: Cnnindonesia

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260227153350-78-1332539/rupiah-melemah-ke-rp16787-per-dolar-as