JAKARTA, BisnisMarket.com - Mata uang Garuda kembali berada dalam tekanan hebat. Pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026, nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.423 hingga Rp17.425 per dolar AS.

Angka ini mencatatkan rekor performa paling rendah sepanjang sejarah, melampaui posisi penutupan hari sebelumnya di Rp17.394. 

Fenomena ini tergolong unik karena terjadi justru saat Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 tumbuh impresif sebesar 5,61%, melampaui estimasi pasar. Lantas, apa yang membuat rupiah tetap "loyo"? Berikut adalah penyebab utamanya: 

1. Eskalasi Konflik di Timur Tengah

Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Uni Emirat Arab memicu ketidakpastian masif di pasar global. Rencana AS untuk mengawal kapal asing di Selat Hormuz direspon ancaman serius dari Teheran, membuat investor memilih menjauhi aset berisiko (seperti rupiah) dan beralih ke aset aman (safe haven). 

2. Lonjakan Harga Minyak Mentah Dunia

Serangan drone Ukraina terhadap kilang-kilang minyak Rusia serta konflik Timur Tengah telah mendorong harga minyak mentah dunia bertahan di atas US$100 per barel. Kenaikan harga komoditas energi ini menjadi beban berat bagi nilai tukar rupiah karena memicu kekhawatiran inflasi global yang tinggi. 

3. Kebijakan "Hawkish" The Fed

Sentimen dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang tetap mempertahankan kebijakan suku bunga ketat (hawkish) turut memperkasa indeks dolar AS. Hal ini mengakibatkan modal asing keluar dari pasar domestik (capital outflow).