BISNISMARKET.COM - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan penegasan bahwa gejolak pelemahan nilai tukar rupiah saat ini tidak akan menimbulkan guncangan besar secara langsung pada neraca keuangan industri perbankan nasional. Penilaian ini didasarkan pada fundamental perbankan yang masih menunjukkan kinerja kuat per awal tahun 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyoroti bahwa posisi perbankan sangat terjaga dari risiko mata uang asing. Hal ini tercermin dari Posisi Devisa Neto (PDN) industri yang berada di angka 1,16 persen pada Januari 2026.
Angka PDN tersebut diklaim jauh berada di bawah ambang batas toleransi (threshold) yang ditetapkan oleh regulator, yaitu sebesar 20 persen.
Dian Ediana Rae menegaskan implikasi dari posisi PDN yang aman tersebut. "Ini dapat dimaknai bahwa eksposur langsung bank terhadap risiko nilai tukar relatif kecil, sehingga secara langsung pelemahan nilai tukar tidak akan banyak berpengaruh secara langsung terhadap neraca bank,” ujar Dian dalam jawaban tertulis, dikutip, Jumat, 13 Maret 2026.
Lebih lanjut, dari perspektif kredit valuta asing (valas), sebagian besar pinjaman yang diberikan dalam dolar AS atau mata uang asing lainnya memiliki karakteristik yang secara alami terlindungi (naturally hedged). Kredit valas umumnya terkait dengan kegiatan ekspor yang basis pendapatannya juga dalam bentuk mata uang asing.
Perbandingan pertumbuhan antara kredit valas dan dana pihak ketiga (DPK) valas menunjukkan dinamika yang positif dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan kredit valas tercatat sebesar 8,1 persen secara tahunan (yoy), melampaui pertumbuhan DPK valas yang ada di angka 6,5 persen yoy.
Meskipun demikian, terjadi sedikit penurunan pada Loan to Deposit Ratio (LDR) valas, yang turun menjadi 81,8 persen pada Januari 2026, dari posisi 84,4 persen di bulan Desember 2025.
Di sektor kredit korporasi, pertumbuhan tercatat mencapai 16,07 persen, dengan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) yang tetap terkendali pada level 1,24 persen. Kinerja ini didorong oleh membaiknya penyaluran kredit di sektor-sektor vital seperti konstruksi, pertanian, dan keuangan.
Dian mengingatkan bahwa kondisi ekonomi global masih diselimuti ketidakpastian yang tinggi, diperparah oleh meningkatnya tensi geopolitik belakangan ini. Ketidakpastian ini berpotensi meningkatkan risiko kredit akibat depresiasi rupiah yang dapat menaikkan biaya input perusahaan.