BISNISMARKET.COM - Pergerakan mata uang Garuda pada perdagangan Kamis, 5 Maret 2026, menunjukkan sedikit kenaikan saat pembukaan pasar, meskipun sentimen global masih dipenuhi ketidakpastian. Rupiah berhasil menguat tipis menembus posisi 16.885 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal hari perdagangan. Namun, penguatan ini terjadi bersamaan dengan tren penguatan dolar AS secara umum yang terpantau berada di zona hijau.

Mengutip data Bloomberg hingga pukul 09.05 WIB, rupiah mencatatkan apresiasi sebesar 7 basis poin atau setara 0,04% sehingga berada di level Rp16.916 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS justru menunjukkan perbaikan kekuatan sebesar 0,05%, mencapai angka 98,82 pada waktu yang sama. Kondisi ini mengindikasikan bahwa penguatan rupiah masih sangat rentan terhadap dinamika pasar global.

Berbeda dengan rupiah, sebagian besar mata uang Asia lainnya justru menunjukkan kinerja positif terhadap dolar AS pada sesi pagi itu. Mata uang seperti Yen Jepang terapresiasi 0,18%, dolar Singapura menguat 0,01%, dan Won Korea menguat tipis 0,03%. Bahkan Peso Filipina, Yuan China, Ringgit Malaysia, dan Baht Thailand turut mengalami apresiasi signifikan.

Di sisi lain, mata uang regional yang mengalami pelemahan adalah dolar Hong Kong dan rupee India, masing-masing terkoreksi sebesar 0,01% dan 0,73% terhadap dolar AS. Kondisi pasar yang beragam ini mencerminkan berbagai faktor spesifik yang memengaruhi pergerakan masing-masing mata uang di kawasan Asia.

Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan bahwa pada hari Kamis (5/3/2026) ini, pergerakan rupiah diprediksi akan tetap berfluktuasi dan cenderung mengalami pelemahan terbatas dalam rentang Rp16.890 hingga Rp16.940 per dolar AS. Proyeksi ini didasarkan pada tekanan eksternal yang cukup kuat yang memengaruhi persepsi risiko pasar.

Tekanan utama datang dari memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyusul serangan terkoordinasi antara AS dan Israel terhadap militer Iran yang mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran. Eskalasi ini meningkatkan risiko kenaikan harga minyak yang berpotensi mendorong inflasi global, yang kemudian memicu sentimen penghindaran risiko (risk-off) di pasar keuangan.

Selain faktor global, sentimen domestik turut membebani rupiah setelah Fitch Ratings merevisi prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun peringkat kredit utamanya masih di level BBB. Selanjutnya, nilai tukar rupiah di berbagai bank besar seperti BCA, BRI, Mandiri, dan BNI menunjukkan penawaran jual yang berkisar antara Rp16.883 hingga Rp16.905 per dolar AS pada hari yang sama.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Market.bisnis. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.