Mata uang Garuda mulai menunjukkan taji tipis di tengah kepungan sentimen global yang penuh ketidakpastian. Meskipun pasar masih dibayangi sikap hati-hati para investor, posisi rupiah perlahan menemukan celah untuk menguat. Pergerakan ini menjadi sinyal positif di tengah tekanan volatilitas yang belum mereda sepenuhnya hingga saat ini.

Berdasarkan data perdagangan spot pada Selasa (3/3/2026), rupiah sempat dibuka melemah 0,03% ke level Rp16.866 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama karena nilai tukar segera berbalik arah ke posisi Rp16.858 per dolar AS. Penguatan terbatas sebesar 0,02% ini mencerminkan dinamika pasar yang sangat cair sejak pembukaan perdagangan pagi hari.

Indeks dolar AS yang sempat melonjak 0,17% kini terpantau melandai dan hanya mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,08% ke level 98,45. Penurunan momentum penguatan mata uang Paman Sam tersebut memberikan sedikit kelegaan bagi pasar uang di kawasan Asia. Meski demikian, ruang penguatan yang tersedia bagi rupiah masih dianggap belum cukup solid untuk membentuk tren jangka panjang.

Yuan China tampil sebagai pemimpin penguatan di kawasan regional dengan apresiasi mencapai 0,4% terhadap dolar AS. Performa gemilang ini diikuti oleh yuan offshore yang menguat 0,35% serta dolar Singapura yang tercatat naik 0,2%. Sementara itu, yen Jepang juga terpantau mengalami apresiasi meskipun hanya berada dalam angka tipis sebesar 0,05%.

Kondisi berbeda justru dialami oleh won Korea Selatan yang harus menelan pil pahit akibat tekanan jual yang masif. Mata uang Negeri Ginseng tersebut terperosok paling dalam dengan koreksi mencapai 1,78% pada perdagangan hari yang sama. Nasib serupa juga menimpa dolar Taiwan dan peso Filipina yang masing-masing menyusut sebesar 0,22% dan 0,10%.

Sentimen hati-hati dari pelaku pasar global masih mendominasi jalannya perdagangan valuta asing di awal Maret ini. Meskipun rupiah mendapatkan sedikit ruang bernapas, risiko dari faktor eksternal tetap menjadi perhatian utama bagi otoritas moneter. Ketidakpastian arah kebijakan ekonomi negara maju terus memicu fluktuasi yang cukup tajam di pasar negara berkembang.

Hingga penutupan sesi perdagangan berikutnya, pergerakan rupiah diprediksi akan terus berada dalam rentang yang cukup terbatas. Para pelaku usaha dan investor diharapkan tetap waspada terhadap perubahan data ekonomi global yang bisa terjadi secara mendadak. Stabilitas nilai tukar menjadi kunci utama dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional di tengah tekanan global.

Sumber: Bloombergtechnoz

https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/101446/dolar-terpangkas-rupiah-dapat-ruang-bernapas