JAKARTA, BisnisMarket.com - Pernahkah Anda membayangkan kembali ke tempat yang pernah ditaklukkan, namun dengan tujuan yang jauh lebih besar? NASA kini tengah mempersiapkan langkah monumental tersebut. Dengan anggaran fantastis nyaris Rp1.700 triliun, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) siap meluncurkan program Artemis, sebuah misi ambisius untuk kembali menjejakkan kaki di Bulan. Namun, di balik gemerlap teknologi dan biaya selangit, tersimpan alasan ekonomi dan bisnis yang tak kalah menarik dari sekadar prestise.
Mengapa Kembali ke Bulan? Lebih dari Sekadar Sejarah
Program Apollo pada tahun 1969 adalah simbol kemenangan Amerika Serikat dalam perlombaan antariksa melawan Uni Soviet di era Perang Dingin. Kini, NASA kembali dengan program Artemis, yang rencananya akan mengirimkan empat awak mengelilingi Bulan pada 1 April mendatang sebagai langkah awal pendaratan dekade ini. Namun, pertanyaan besar menggantung: mengapa menghabiskan hampir US$100 miliar (setara sekitar Rp1.698 triliun) untuk mengulangi perjalanan yang sudah pernah dilakukan?
"Penerbangan antariksa dengan astronot merupakan inti dari lembaga NASA sejak era Apollo, dan menjadi bagian dari identitas diri sebagian besar pegawai badan tersebut," ungkap Casey Dreier, kepala kebijakan antariksa di Planetary Society. Jika Apollo adalah tentang supremasi geopolitik, Artemis memiliki visi yang lebih luas, berfokus pada keberlanjutan dan potensi ekonomi.
Artemis: Batu Loncatan Ekonomi dan Bisnis di Luar Bumi
Tujuan Artemis kali ini tampak lebih kompleks. NASA tidak hanya ingin mendarat, tetapi juga membangun pangkalan di Bulan. "Pangkalan Bulan tersebut akan memberikan lingkungan ruang angkasa yang jauh bagi astronaut untuk tinggal, bekerja, dan melakukan eksperimen yang dapat diterapkan pada kehidupan di Mars," jelas perwakilan NASA. Ini adalah investasi jangka panjang untuk eksplorasi lebih jauh ke dalam sistem tata surya, dengan Mars sebagai tujuan akhir.
Lebih menarik lagi, NASA ingin menggunakan Artemis untuk menciptakan "ekonomi bulan." Sumber daya seperti es di kawah beku dan mineral bulan diharapkan dapat menopang pangkalan dan membuka peluang bisnis baru. "Ketika kita membayangkan ekonomi antariksa, hal itu tidak akan lagi begitu terpusat di Bumi. Namun, dalam jangka panjang, kita mungkin akan sampai pada titik di mana kita memperoleh nilai dari sesuatu di antariksa yang memang memiliki nilai di antariksa," ujar Clayton Swope, wakil direktur Proyek Keamanan Dirgantara di Center for Strategic and International Studies. Potensi pemanfaatan sumber daya bulan untuk aktivitas di luar Bumi menjadi daya tarik ekonomi yang signifikan.
Perlombaan Baru: Menghadapi China di Arena Bulan
Perjalanan kembali ke Bulan ini juga diwarnai oleh dinamika geopolitik baru. Kemajuan pesat program antariksa China, yang berencana mendaratkan manusia di bulan pada akhir dekade ini, menambah urgensi bagi NASA. "Bagi para regulator dan kalangan militer, hal ini menambah urgensi untuk kembali ke Bulan," tulis artikel tersebut. Ada kekhawatiran bahwa China dapat mengklaim sumber daya bulan atau bahkan memiliterisasi wilayah tersebut, yang dapat membahayakan aset antariksa AS.