JAKARTA, BisnisMarket.com – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) merilis hasil riset terbaru yang menunjukkan peran krusial layanan pinjaman daring (pindar) sebagai bantalan keuangan masyarakat. Studi dengan studi kasus AdaKami ini mengungkapkan bahwa akses pembiayaan digital membantu rumah tangga menjaga konsumsi, mengelola risiko keuangan, hingga menghindari penjualan aset produktif di tengah ketidakpastian ekonomi.
Dalam struktur ekonomi Indonesia, konsumsi rumah tangga menjadi penggerak utama pertumbuhan dengan kontribusi lebih dari 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Untuk menjaga stabilitas aktivitas konsumsi tersebut, diperlukan akses pembiayaan yang inklusif dan terjangkau. Industri pindar hadir mengisi celah kebutuhan ini dengan penetrasi yang terus meningkat.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kinerja industri pindar menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Per Februari 2026, nilai penyaluran (outstanding) pinjaman mencapai Rp100,69 triliun, tumbuh 25,75 persen secara tahunan. Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan tingkat risiko kredit macet agregat (TWP90) berada di level 4,54 persen.
Peneliti LPEM FEB UI, Prani Sastiono, menjelaskan bahwa pinjaman digital menjadi solusi darurat bagi masyarakat untuk menghadapi guncangan ekonomi, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK), kondisi sakit keras, hingga kedukaan keluarga. Data riset menunjukkan sebanyak 24,51 persen peminjam AdaKami menyatakan bahwa tanpa pinjaman tersebut, mereka terpaksa menggunakan tabungan atau menjual aset untuk memenuhi kebutuhan.
"Dengan pengelolaan risiko yang baik, rumah tangga yang menghadapi pengeluaran tidak terduga tidak perlu meminjam pada rentenir dengan bunga tinggi. Hal ini membantu mereka menjaga kestabilan tabungan dan menghindari penurunan kualitas hidup jangka panjang," ujar Prani.
Ia menambahkan, akses terhadap pinjaman daring membantu pengguna menghindari strategi bertahan hidup yang merugikan, seperti menjual alat kerja produktif. Contohnya, seorang fotografer tidak perlu menjual kameranya atau musisi tidak perlu menjual alat musiknya untuk menutupi kebutuhan mendesak, sehingga mereka tetap bisa bekerja.
Menanggapi temuan ini, Direktur Keuangan AdaKami, Valentina Juveline, menegaskan pentingnya tata kelola dan manajemen risiko yang kuat dalam menjalankan layanan pembiayaan digital. "Bagi AdaKami, temuan ini memperkuat bukti bahwa layanan kami telah menjadi instrumen keuangan yang membantu masyarakat mengelola arus kas secara lebih terukur dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian," ungkapnya.
Dukungan senada datang dari OJK. Deputi Direktur Direktorat Pengawasan Usaha Pembiayaan Berbasis Teknologi OJK, Anjar Sumarjati, menyatakan bahwa industri pindar telah berkontribusi signifikan dalam mendorong inklusi keuangan, terutama bagi segmen masyarakat yang selama ini belum terjangkau oleh lembaga keuangan konvensional.
Hasil riset ini menegaskan pentingnya peran industri pindar untuk terus memperkuat transparansi, perlindungan konsumen, dan kolaborasi antarpihak guna mendorong pertumbuhan industri keuangan digital yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia.