MALUKU UTARA, BisnisMarket.com - Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara pada Kamis pagi, 2 April 2026, langsung mendapat penanganan cepat dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Lembaga ini segera mengaktifkan sistem pemantauan serta koordinasi untuk memastikan proses mitigasi berjalan efektif.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa pemerintah daerah di kawasan terdampak bergerak cepat dengan memberikan imbauan langsung kepada masyarakat setelah gempa terjadi. Respons tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kewaspadaan warga sekaligus meminimalkan risiko di lapangan.
Menurut Faisal, mekanisme peringatan dini gempa dilakukan secara bertahap dan harus berjalan dalam waktu yang sangat cepat. Tahap pertama diikuti dengan peringatan lanjutan dalam waktu kurang dari 10 menit setelah kejadian. Selanjutnya, peringatan dini tahap ketiga disampaikan dalam rentang 30 hingga 60 menit, dan seluruh proses harus diselesaikan maksimal 120 menit setelah estimasi waktu kedatangan gelombang pertama.
Ia menekankan bahwa kecepatan penyampaian informasi menjadi elemen penting dalam sistem mitigasi bencana. Dengan informasi yang cepat dan akurat, berbagai pihak dapat segera mengambil langkah-langkah penyelamatan yang diperlukan.
“Informasi ini harus diterbitkan secepat mungkin, tidak lebih dari 120 menit, sehingga BPBD, tim SAR, hingga unsur forkopimda dapat segera bergerak melakukan evakuasi dan memberikan pertolongan kepada masyarakat di wilayah terdampak,” jelasnya dalam keterangan pers yang disiarkan melalui kanal YouTube Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
BMKG juga menegaskan bahwa koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat menentukan keberhasilan penanganan bencana. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk tim penyelamat dan aparat daerah, memungkinkan proses evakuasi serta penanganan darurat dilakukan lebih efektif.
Selain itu, kesiapsiagaan masyarakat juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Dengan memahami prosedur keselamatan dan mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait, potensi dampak dari gempa M 7,6 di Sulawesi Utara dan Maluku Utara diharapkan dapat ditekan semaksimal mungkin.
Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa wilayah Indonesia berada di kawasan rawan aktivitas seismik. Karena itu, penguatan sistem peringatan dini dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap mitigasi bencana menjadi langkah krusial untuk menghadapi potensi gempa di masa mendatang.