BISNISMARKET.COM - PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) menghadapi awal tahun 2026 dengan tantangan finansial yang cukup berat. Perusahaan membukukan kerugian bersih sebesar Rp2,53 miliar selama periode kuartal pertama tahun 2026.
Kinerja yang merugi ini kontras dengan catatan positif pada periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu kuartal I 2025, ketika perusahaan masih mampu meraih laba bersih sebesar Rp203,32 juta. Akibatnya, rugi per saham dasar perusahaan juga ikut tertekan menjadi (Rp0,38) dari sebelumnya berada di posisi positif Rp0,03 per saham.
Situasi ini terungkap berdasarkan data yang tertera dalam laporan keuangan perusahaan per tanggal 31 Maret 2026. Penjualan Repower Asia menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan, yakni melemah sebesar 12,36% secara tahunan.
Total capaian penjualan pada kuartal I 2026 hanya tercatat menyentuh angka Rp1,50 miliar, menurun dibandingkan perolehan Rp1,71 miliar pada kuartal I 2025. Seluruh pendapatan perusahaan pada periode tersebut masih bergantung penuh pada segmen penjualan rumah hunian.
Menariknya, penurunan pendapatan ini beriringan dengan kenaikan pada komponen beban pokok penjualan. Beban ini tercatat membengkak hingga 10,04%, menjadi Rp990,86 juta dari sebelumnya yang hanya Rp900,41 juta pada kuartal pertama tahun sebelumnya.
Kenaikan beban pokok penjualan tersebut berdampak langsung pada laba bruto yang terkikis tajam menjadi hanya Rp509,13 juta pada kuartal I 2026, jauh di bawah perolehan laba bruto Rp811,29 juta di kuartal I 2025.
Biang keladi utama dari anjloknya kinerja keuangan secara keseluruhan adalah lonjakan signifikan pada pos beban usaha. Total beban usaha dilaporkan melonjak drastis sebesar 106,96%, mencapai Rp2,11 miliar dibandingkan dengan hanya Rp1,02 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan beban usaha ini didorong oleh beberapa faktor, termasuk peningkatan beban administrasi dan umum yang membengkak hingga Rp2,11 miliar. Peningkatan signifikan lainnya terlihat pada pos lain-lain yang mencapai Rp875,68 juta serta membengkaknya biaya perijinan hingga mencapai Rp125 juta, sementara beban pemasaran tercatat minim di angka Rp4 juta.
Posisi keuangan perusahaan semakin tertekan akibat penurunan drastis pada penghasilan lain-lain. Penghasilan jasa giro dilaporkan terjun bebas menjadi hanya Rp37 ribu, kontras dengan capaian luar biasa sebesar Rp554,79 juta di kuartal I 2025.