BISNISMARKET.COM - Berbeda dengan sumber kekayaan yang umum seperti tambang atau properti, terdapat kisah keluarga bangsawan di Indonesia yang membangun kemakmuran setara triliunan rupiah dari sebuah komoditas alam yang namanya tertera dalam kitab suci Al-Qur'an. Kisah ini berpusat pada trah penguasa legendaris dari Tanah Batak, yakni keluarga Sisingamangaraja.

Sosok Sisingamangaraja bukanlah merujuk pada satu individu, melainkan sebuah gelar turun-temurun yang dipegang oleh para penguasa di Negeri Toba, dimulai dari Sisingamangaraja I pada tahun 1530 hingga Sisingamangaraja XII yang hidup antara tahun 1876 hingga 1907. Sumber utama kejayaan ekonomi mereka adalah komoditas alam bernama kapur barus alami.

Kapur barus ini disebutkan secara spesifik dalam Al-Qur'an, yakni dalam Surat Al-Insan ayat 5, di mana "air kafur" disebut sebagai bagian dari minuman bagi hamba Allah yang berbuat kebajikan. Kapur barus yang dimaksud bukanlah pewangi sintetis modern, melainkan getah dari pohon alami Dryobalanops aromatica.

Tanaman langka ini memiliki nilai jual yang sangat tinggi di pasar internasional karena aroma wanginya yang khas dan dipercaya memiliki khasiat kesehatan di masa lampau. Keistimewaan lainnya adalah kelangkaannya, karena tanaman ini hanya dapat ditemukan di tiga lokasi di dunia: Sumatra, Malaya, dan Kalimantan.

Kelangkaan inilah yang mendorong harga kapur barus melambung tinggi, menjadikannya komoditas elit yang dicari oleh pedagang dari Timur Tengah, Asia, hingga Eropa. Siapapun yang berhasil mengendalikan sumber utama komoditas ini otomatis akan menguasai sumber kekayaan besar, dan di Sumatra, kendali itu berada di tangan keluarga Sisingamangaraja.

Sejak abad ke-16, trah Sisingamangaraja telah aktif dalam perdagangan internasional kapur barus, yang kemudian berkembang menjadi monopoli perdagangan di wilayah Sumatra Utara. Kekayaan besar yang terakumulasi ini tidak disimpan dalam bentuk aset properti, melainkan dalam bentuk logam mulia seperti emas, berlian, dan batu permata.

"Raja-raja Sisingamangaraja dari mulai yang ke-1 hingga ke-10, semuanya suka mengumpulkan Blue Diamonds dari Ceylon. Lalu juga intan-intan Ceylon yang dibawa dari India melalui Barus. Intan-intan Ceylon ini besarnya seperti telur burung," tulis Augustin Sibarani dalam bukunya.

Skala kekayaan dinasti ini terekspos jelas ketika terjadi serangan besar oleh kelompok Padri ke Tanah Batak pada tahun 1818. Dalam peristiwa tersebut, harta rampasan Sisingamangaraja sangat besar dan memerlukan upaya luar biasa untuk dipindahkan.

"Disebutkan harta rampasan Sisingamangaraja diangkut menggunakan 17 ekor kuda, masing-masing membawa sekitar 60 kilogram emas," tulis Mangaraja Onggang Parlindungan dalam buku Tuanku Rao (1964).