BISNISMARKET.COM - Wacana mengenai penetapan Hari Raya Idulfitri tahun 2026 mulai mencuat, dipicu oleh perhitungan astronomis awal yang menunjukkan potensi pergeseran jadwal. Lembaga falakiyah di Indonesia secara intensif melakukan kajian untuk memprediksi jatuhnya 1 Syawal 1448 Hijriah.
Organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), telah mengeluarkan proyeksi awal mengenai prediksi tanggal perayaan hari kemenangan tersebut. Prediksi ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap posisi bulan sabit muda atau hilal.
Menurut analisis awal yang dilakukan oleh pihak NU, posisi hilal diproyeksikan masih berada pada ketinggian yang sangat rendah saat matahari terbenam di akhir Ramadan 1447 H. Kondisi ini menjadi faktor krusial dalam penentuan awal bulan dalam kalender Hijriah.
"NU prediksi Idul Fitri 2026 berpotensi jatuh pada 21 Maret karena posisi hilal belum memenuhi kriteria imkanur rukyat," ujar salah satu perwakilan NU terkait kajian falakiyah.
Kriteria imkanur rukyat merujuk pada batasan minimal ketinggian hilal dan sudut elongasi yang harus terpenuhi agar hilal dapat terlihat secara kasat mata. Jika kriteria ini tidak terpenuhi, maka bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari.
Proyeksi jatuhnya Idulfitri pada 21 Maret 2026 menunjukkan kemungkinan besar bahwa bulan Ramadan tahun tersebut akan berjalan penuh selama satu bulan penuh. Keputusan final tentu akan menunggu hasil rukyatul hilal yang dilaksanakan oleh tim resmi pemerintah.
Perhitungan awal ini penting sebagai panduan awal bagi umat Islam dalam merencanakan kegiatan ibadah menjelang akhir Ramadan. Meskipun demikian, penetapan resmi tetap mengikuti metode observasi langsung yang dilakukan oleh otoritas keagamaan.
Analisis ini menegaskan pentingnya data astronomis yang akurat dalam menjaga kesatuan penetapan hari besar Islam di Indonesia. Hasil akhirnya akan menjadi penentu kapan umat Islam akan melaksanakan salat Idulfitri.