JAKARTA, BisnisMarket.com - Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi kembali melonjak tajam, memicu kekhawatiran akan laju inflasi yang diperkirakan makin melaju pada bulan Juni 2026. Apakah kenaikan ini akan mengganggu daya beli masyarakat dan kestabilan ekonomi secara keseluruhan? Atau justru ada faktor lain yang menjaga laju kenaikan harga tetap terkendali?

Lonjakan Harga Pertamax

Dilansir dari Bloomberg Technoz (30/6), PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga Pertamax pada 10 Juni 2026 dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter, naik sekitar 32 persen dalam satu kali penyesuaian. Menurut Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, langkah ini diambil dengan pertimbangan yang matang:

“Penyesuaian pada harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat.”

Meskipun belakangan ini harga minyak dunia jenis Brent telah turun hampir 24 persen dalam sebulan terakhir akibat meredanya ketegangan di Timur Tengah, dampak lonjakan harga sebelumnya masih terasa kuat. Seperti dijelaskan Ekonom Bloomberg Intelligence, Tamara Mast Henderson:

“Harga minyak dunia memang mundur teratur belakangan ini. Namun lonjakan sebelumnya tetap dirasakan di rantai pasok dunia. Dampaknya terasa di harga BBM Indonesia.”

Proyeksi Inflasi Juni 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data inflasi resmi Juni pada Rabu, 1 Juli 2026. Berdasarkan konsensus pasar yang melibatkan 23 analis, laju inflasi tahun ke tahun diproyeksikan mencapai 3,2 persen, lebih tinggi dibandingkan posisi Mei sebesar 3,08 persen yoy. Bahkan Bloomberg Intelligence memperkirakan angka ini bisa menyentuh 3,6 persen yoy.

Selain kenaikan BBM, pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menembus angka Rp18.000 per Dolar AS juga menjadi pendorong tekanan harga. “Pelemahan rupiah menyebabkan kenaikan biaya impor,” tambah Henderson.