JAKARTA, BisnisMarket.com – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto resmi mengambil langkah strategis dalam sektor peternakan dengan menyetujui impor ratusan ribu ekor induk ayam (Grand Parent Stock/GPS) dari Amerika Serikat.
Kebijakan ini merupakan bagian dari implementasi perdana kesepakatan dagang timbal balik (Reciprocal Trade Agreement) yang baru saja ditandatangani di Washington D.C.
Langkah impor ini bukan sekadar pengadaan bibit, melainkan bagian dari diplomasi ekonomi tingkat tinggi. Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia membuka pintu bagi 580.000 ekor induk ayam asal AS dengan nilai kontrak mencapai USD 20 juta (sekitar Rp315 miliar).
Sebagai imbal baliknya, Amerika Serikat memberikan konsesi besar berupa tarif 0% (bebas bea masuk) bagi komoditas unggulan Indonesia, termasuk minyak sawit (CPO), kopi, dan produk tekstil.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, dalam konferensi pers di Jakarta, menjelaskan bahwa impor ini sangat krusial bagi keberlangsungan protein hewani nasional.
"Indonesia saat ini belum memiliki fasilitas pemuliaan genetik galur murni ayam yang mandiri. Impor GPS ini diperlukan untuk menghasilkan Parent Stock yang nantinya akan melahirkan bibit ayam potong (DOC) berkualitas bagi peternak lokal," ujar Haryo.
Beberapa poin penting dalam kebijakan ini antara lain:
Kualitas Genetik: Induk ayam dari AS dikenal memiliki produktivitas tinggi dan ketahanan penyakit yang baik.
Stabilitas Pasokan: Memastikan ketersediaan daging ayam di pasar domestik tetap terjaga untuk menekan inflasi pangan.