JAKARTA, BisnisMarket.com - Momen Lebaran selalu dinanti, tak terkecuali pada tahun 2026 ini. Tunjangan Hari Raya (THR) yang cair menjelang hari raya sejatinya diharapkan mampu memberikan suntikan likuiditas bagi masyarakat. Namun, di balik euforia perayaan, tersembunyi sebuah fenomena yang cukup mengkhawatirkan: tren 'makan tabungan' atau dissaving justru semakin marak terjadi di tengah lonjakan konsumsi menjelang Idul Fitri. Apakah THR yang diterima tidak cukup, atau ada faktor lain yang lebih dalam?

Tren Dissaving Mengintai di Tengah Banjir THR

Dilansir dari Bloomberg Technoz (30/3), data Mandiri Saving Index (MSI) pada pekan ketiga Ramadan 2026 menunjukkan gambaran yang cukup mengejutkan. Secara umum, pertumbuhan tabungan masyarakat pada periode Ramadan tahun ini tercatat lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian besar masyarakat masih mengandalkan tabungan yang mereka miliki untuk memenuhi berbagai kebutuhan selama Ramadan, meskipun di saat yang sama terjadi lonjakan belanja musiman yang signifikan.

"Pertumbuhan tahunan tabungan semua kelompok di Ramadan 2026 lebih rendah dibanding pertumbuhan di 2025. Hal ini menunjukkan proses dissaving [makan tabungan], terutama dalam menopang belanja Ramadan, masih terus berlanjut," demikian dikutip dari Laporan Economic Update-Askelerasi Belanja Pasca Pencairan THR, Senin (30/3/2026).

Kelompok Atas Menurun, Kelompok Bawah dan Menengah Naik Tipis

Analisis lebih rinci dari MSI mengungkapkan adanya perbedaan pola di antara kelompok pendapatan masyarakat. Kelompok atas, yang biasanya memiliki daya beli lebih tinggi, justru mengalami penurunan saldo tabungan ke level 89,7 dari sebelumnya 94,3. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi pada kelompok ini melampaui tambahan pendapatan yang mereka terima, termasuk dari THR.

Namun, kondisi berbeda terjadi pada tabungan kelompok masyarakat bawah yang menunjukkan sedikit peningkatan ke level 73,6 dari sebelumnya 72,8 pada Februari 2026. Sementara itu, kelompok menengah pun mencatat kenaikan menjadi 102,1 dari 100,4. Kenaikan pada kedua kelompok ini mencerminkan adanya tambahan pemasukan, terutama dari pencairan THR. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa peningkatan tabungan pada kelompok menengah dan bawah ini persentasenya lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, yang semakin memperkuat dugaan adanya tekanan pada daya beli.

Aktivitas Konsumsi Menguat, Pola Belanja Berubah

Sejalan dengan tren dissaving, aktivitas konsumsi masyarakat menunjukkan penguatan yang cukup signifikan. MSI mencatat adanya peningkatan belanja masyarakat sebesar 0,9 persen secara mingguan pada pekan ketiga Ramadan, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 7,7 persen. Peningkatan belanja ini terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Pulau Sumatra memimpin dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 1,25 persen, diikuti oleh Sulawesi 1,19 persen, Kalimantan 1,15 persen, Maluku dan Papua 1,00 persen, Jawa 0,88 persen, serta Bali-Nusa Tenggara sebesar 0,31 persen.