JAKARTA, BisnisMarket.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, melakukan kunjungan kerja strategis ke Tokyo, Jepang, pada pertengahan Maret 2026. Kunjungan ini dinilai mempertegas peran Indonesia dalam peta energi global melalui penguatan kerja sama investasi dan teknologi rendah karbon.
Dalam pertemuan dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, Ryosei Akazawa, Bahlil menyepakati dua nota kesepahaman (MoU) penting. Kesepakatan tersebut mencakup penguatan rantai pasok mineral kritis dan pengembangan teknologi nuklir rendah karbon.
Selain itu, Bahlil mendorong percepatan investasi Inpex Corporation pada Proyek Gas Lapangan Abadi Blok Masela yang bernilai fantastis, yakni Rp339 triliun. Mantan Menteri Investasi ini juga menawarkan pengelolaan bersama komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, hingga logam tanah jarang.
Diplomasi ini turut mencakup sektor batubara, gas alam cair (LNG), serta proyek transisi energi dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC). Beberapa proyek spesifik yang dibahas antara lain penyelesaian PLTSa Legok Nangka dan optimalisasi PLTP Sarulla.
Langkah diplomasi Bahlil tersebut mendapat apresiasi dari pakar kebijakan publik, Prof. Dr. Henry Indraguna, SH., MH. Ia menilai capaian ini sebagai wujud kedaulatan hukum dan ekonomi yang presisi di tengah ketidakpastian geopolitik global.
"Indonesia tidak lagi menjadi objek dalam relasi kuasa global, namun menjadi subjek yang aktif mendefinisikan kepentingannya sendiri," ujar Prof. Henry dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (19/3/2026).
Menurut Henry, upaya pemerintah ini berhasil mendekonstruksi narasi lama bahwa negara berkembang hanya berfungsi sebagai penyedia bahan mentah. Melalui diplomasi ini, Indonesia bertransformasi menjadi penentu rantai pasok dunia.
"Ini bentuk kedaulatan yang cair namun kokoh. Menunjukkan hukum nasional kita mampu beradaptasi dengan standar internasional tanpa kehilangan jati diri konstitusionalnya," tegas Penasehat Ahli Balitbang DPP Partai Golkar tersebut.
Dari perspektif ekonomi, Guru Besar Unissula Semarang ini melihat diplomasi Bahlil sebagai implementasi teori Endogenous Growth yang dirumuskan ekonom Paul Romer. Teori ini menekankan pertumbuhan jangka panjang yang bersumber dari investasi modal manusia dan teknologi.