JAKARTA, BisnisMarket.com - Di tengah riuh rendah isu kelangkaan LPG 3 Kg yang melanda beberapa wilayah di Jawa Timur, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, angkat bicara dengan nada tegas membantah adanya kelangkaan tersebut. Pernyataan ini sontak memicu berbagai spekulasi dan pertanyaan di benak masyarakat, terutama para pelaku usaha dan konsumen yang bergantung pada bahan bakar bersubsidi ini. Benarkah isu kelangkaan hanyalah angin lalu, atau ada permainan di balik layar yang memengaruhi ketersediaan pasokan?

Operasi Pasar: Solusi Jitu atau Sekadar Penenang?

Belakangan ini, kabar mengenai sulitnya mendapatkan LPG 3 Kg bersubsidi atau yang akrab disapa 'Gas Melon' memang santer terdengar di beberapa kabupaten di Jawa Timur, termasuk Tuban. Namun, Bahlil mengklaim bahwa situasi tersebut telah teratasi. "Enggak [langka-read]. Emang kemarin saya baru cek itu di Jawa Timur, kalau tidak salah di Kabupaten Tuban. Ada 2—3 kabupaten [mengalami kelangkaan LPG], tetapi sudah clear, kita lakukan operasi pasar," ungkap Bahlil kepada awak media di Istana, Selasa (7/4/2026).

Langkah operasi pasar yang dilakukan pemerintah memang kerap menjadi andalan untuk menstabilkan pasokan dan harga barang kebutuhan pokok. Namun, dari sudut pandang ekonomi, efektivitas operasi pasar dalam jangka panjang patut dipertanyakan. Apakah operasi pasar ini hanya bersifat sementara untuk meredam gejolak, ataukah ada strategi yang lebih komprehensif untuk memastikan ketersediaan LPG 3 Kg secara berkelanjutan?

Stok LPG Menipis: Alarm Merah Bagi Perekonomian?

Menariknya, di balik klaim Bahlil, data dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) memberikan gambaran yang sedikit berbeda. Dilansir dari Bloomberg Technoz (9/4), dilaporkan bahwa rata-rata stok gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) per 12 Maret 2026 hingga 31 Maret 2026 tercatat sebesar 11,6 hari. Angka ini memang masih berada di atas batasan minimum nasional yang ditetapkan sebesar 11,4 hari, namun terpaut sangat tipis.

Situasi stok yang menipis ini tentu menjadi perhatian serius dari perspektif ekonomi bisnis. Ketergantungan Indonesia yang masih tinggi pada impor LPG membuat pasokan sangat rentan terhadap fluktuasi harga global dan geopolitik. Jika stok menipis, potensi kenaikan harga yang signifikan sangat mungkin terjadi, yang pada akhirnya akan membebani rumah tangga dan pelaku usaha kecil.

Diversifikasi Impor: Langkah Strategis Jangka Panjang?

Menyadari kerentanan tersebut, Bahlil mengungkapkan bahwa Indonesia telah mulai mengalihkan impor LPG dari Timur Tengah ke negara lain seperti Amerika Serikat (AS) dan Australia. "Dengan kondisi sekarang yang di Middle East kita pecah lagi untuk kita ambil kontrak jangka panjang dengan Amerika dan beberapa negara lain. Pada akhir minggu ini kita masuk dua kargo dari Australia. Itu untuk LPG,” kata Bahlil dalam sidang kabinet paripurna, Jumat (13/3/2026) silam.