BISNISMARKET.COM - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui bahwa pasar modal di Indonesia tengah menghadapi serangkaian guncangan signifikan dari berbagai faktor eksternal. Guncangan ini meliputi penyesuaian kebijakan dari lembaga pemeringkat global hingga dinamika geopolitik internasional yang semakin memanas.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwa pengaruh lembaga rating internasional terhadap industri keuangan domestik memiliki dampak yang cukup besar. Hal ini terlihat jelas dari reaksi pasar setelah adanya perubahan kebijakan dari lembaga pemeringkat global terkemuka.

Dinamika pasar yang terjadi menunjukkan betapa sensitifnya bursa saham Tanah Air terhadap sentimen global. "Sudah kita lihat sendiri bagaimana satu pengumuman ya dari MSCI bisa menyebabkan satu market event di pasar modal Indonesia di akhir Januari tahun 2026 ini," ujar Friderica saat memberikan keterangan di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (11/5/2026).

Dampak dari lembaga pemeringkat tidak berhenti hanya pada MSCI, tetapi juga diikuti oleh penyesuaian proyeksi oleh lembaga lain. "Ini kemudian juga diikuti dengan penyesuaian outlook ya oleh lembaga pemeringkat seperti Moody's dan Fitch yang kemudian tentunya turut mempengaruhi berbagai hal di market yang kita lihat sejauh ini," tambah beliau.

Selain faktor lembaga rating, OJK mencatat bahwa tantangan yang dihadapi pasar modal saat ini semakin kompleks akibat adanya ketegangan antarnegara. Secara spesifik, friksi antara Amerika Serikat dan Iran turut memberikan tekanan tambahan pada stabilitas pasar keuangan global.

Ketegangan geopolitik ini, menurut Friderica, menempatkan hampir semua negara dalam posisi yang sulit karena terkait erat dengan isu energi. "Ini semakin menempatkan hampir seluruh negara di dunia dalam posisi yang tidak mudah karena faktor energi," sebutnya.

Gejolak di kawasan Timur Tengah berdampak langsung pada sektor-sektor yang bergantung pada komoditas energi global. Kenaikan harga minyak dunia sebagai akibat dari ketidakstabilan di jalur pelayaran penting turut memengaruhi berbagai variabel ekonomi.

"Bagaimana satu Selat Hormuz ini yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia ini kemudian mempengaruhi harga minyak, mempengaruhi banyak hal ya, nilai tukar, kemudian mempengaruhi market di berbagai negara termasuk di Indonesia," jelas Friderica.

Menanggapi berbagai badai eksternal tersebut, OJK menegaskan bahwa lembaga terus melakukan upaya perbaikan internal secara berkelanjutan. Fokus utama perbaikan ini adalah untuk memperkuat posisi pasar Indonesia di mata investor global.