JAKARTA, BisnisMarket.com - Bayangkan, puluhan emiten
unggulan Indonesia tiba-tiba dicoret dari daftar indeks yang menjadi acuan dana
investasi dunia. Pasar langsung bergolak, indeks anjlok, modal asing keluar.
Namun di tengah kekalutan itu, otoritas bursa justru angkat bicara: ini bukan
bencana, tapi jalan menuju kepastian!
Peristiwa besar ini terjadi Rabu (13/5/2026), saat
MSCI merilis hasil tinjauan berkala indeks periode Mei 2026. Secara
mengejutkan, sebanyak 18 saham Indonesia dicoret dari berbagai indeks global
mereka, 6 dari MSCI Global Standard dan 13 lagi dari kategori Small Cap.
Daftarnya mencakup nama-nama besar: AMMN, BREN, TPIA, AMRT, ANTM, BSDE, SIDO,
hingga TKIM. Hanya AMRT yang "beruntung", dipindahkan ke indeks
kecil. Semua perubahan ini resmi berlaku mulai 1 Juni 2026 mendatang.
Pasar Langsung Tertekan, tapi...
Tak pelak, sentimen negatif langsung menyergap. Dalam
sepekan, IHSG tergerus 3,53 persen ke level 6.723, kapitalisasi pasar menyusut
4,68 persen jadi Rp11.825 triliun, dan nilai transaksi harian anjlok hampir 19
persen. Investor asing tercatat jual bersih Rp1,53 triliun hanya dalam satu
hari, dan total keluar Rp40,8 triliun sepanjang tahun ini. Publik bertanya:
Apakah pasar modal kita makin tidak dipercaya dunia?
Namun, jawaban Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik membalikkan persepsi itu sepenuhnya. "Selama ini pasar kita berada dalam ketidakpastian tinggi. Salah satu sumbernya adalah pasar menunggu keputusan MSCI. Sekarang sudah jelas, hal ini justru mengurangi satu unsur ketidakpastian yang selama ini menghambat langkah kita," ujar Jeffrey dalam konferensi pers, dikutip dari Kompas.com (14/5/2026).
Keputusan ini memang membuat tekanan jangka pendek tak
terelakkan, namun otoritas bersama OJK,
KPEI, dan KSEI menegaskan perdagangan tetap terkontrol, tidak ada panik jual
yang merajalela. Pelemahan ini dinilai hanya penyesuaian portofolio biasa, dan
justru membuat nilai saham jadi lebih menarik dibanding awal tahun.
Mengapa Disebut Positif?
Ada alasan kuat di balik pandangan itu. Selama
berminggu-minggu, investor menahan diri, bersikap wait and see, takut salah
langkah karena belum tahu nasib indeks kita. Gejolak geopolitik, harga minyak
tak menentu, dan rupiah yang melemah sudah cukup berat, belum lagi ketegangan
soal MSCI. Sekarang, semua sudah terang benderang.
"Kepastian ini menjadi dasar kita bertumbuh ke
depan. Kami tak akan rekayasa penilaian, tapi fokus perkuat tata kelola,
transparansi, dan kualitas emiten agar kembali bersinar di mata dunia,"
tegas Jeffrey lagi.