JAKARTA, BisnisMarket.com — Konflik yang tengah melanda Iran, dengan eskalasi yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Israel, bukan hanya peristiwa geopolitik yang mempengaruhi Timur Tengah. 

Lebih dari itu, dampaknya terasa hingga ke pelosok dunia, termasuk Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan ketergantungan tinggi terhadap impor energi dan perdagangan maritim, Indonesia perlu mulai menyadari bahwa krisis ini adalah ancaman yang tak bisa dianggap remeh.

Menurut Capt. Taufan Sofiandi, SE, M.Mar, seorang praktisi maritim berpengalaman di industri offshore-oil & gas, dampak dari ketegangan di Selat Hormuz dapat memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab, merupakan jalur pelayaran utama bagi sekitar 20-25% pasokan minyak dunia dan 20% perdagangan gas alam cair (LNG). Ketika ketegangan di selat ini meningkat, risikonya tidak hanya terbatas pada kawasan tersebut. Harga minyak dunia, yang baru-baru ini melonjak lebih dari 10%, menjadi indikator langsung dampak geopolitik terhadap ekonomi global.

Bagi Indonesia, sebagai negara yang mengimpor sebagian besar energi, kenaikan harga minyak bukan hanya sekadar angka statistik. Ini langsung berpengaruh pada beban subsidi energi, biaya impor BBM, dan bahkan ketahanan fiskal negara.