PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) tengah menjadi sorotan pasar modal akibat pergerakan harga sahamnya yang fluktuatif. Emiten penyedia jasa infrastruktur konektivitas ini sebenarnya memiliki sederet agenda ekspansi strategis untuk periode menengah hingga panjang. Namun, antusiasme investor di lantai bursa tampaknya mulai mengalami pergeseran signifikan memasuki periode awal tahun ini.

Berdasarkan data pasar terkini, performa saham INET pada pembukaan 2026 terpantau tidak sekuat pencapaian pada tahun 2025 silam. Secara akumulatif, nilai saham perusahaan ini sudah mengalami koreksi tajam lebih dari 30 persen sejak awal tahun berjalan. Penurunan ini memicu pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar mengenai daya tahan fundamental perusahaan di masa depan.

Menilik data dari Bloomberg per tanggal 3 Maret, posisi harga saham INET berada pada level Rp326 per lembar. Angka tersebut mencerminkan rasio harga terhadap laba atau Price to Earning Ratio (PER) yang sangat tinggi, yakni mencapai 246,16 kali. Kondisi ini menunjukkan adanya ekspektasi pertumbuhan yang luar biasa besar yang dibebankan investor pada pundak emiten tersebut.

Selain indikator PER, rasio Price to Book Value (PBV) dari emiten ini juga mencatatkan angka yang cukup fantastis di level 13,06 kali. Rasio yang tinggi ini sering kali menjadi bahan diskusi hangat di kalangan analis mengenai apakah harga pasar saat ini masih sejalan dengan nilai buku perusahaan. Kendati demikian, manajemen tetap optimistis bahwa langkah-langkah korporasi yang telah disusun akan mampu mendongkrak performa finansial.

Strategi ekspansi jangka panjang yang dirancang oleh manajemen INET diharapkan menjadi katalis positif untuk memulihkan kepercayaan investor. Perusahaan berupaya memperkuat infrastruktur jaringan guna menangkap peluang pasar digital yang terus berkembang pesat di tanah air. Meskipun tantangan ekonomi makro membayangi, komitmen untuk memperluas jangkauan layanan tetap menjadi prioritas utama perseroan.

Perbandingan antara performa tahun 2025 dengan kondisi awal 2026 memberikan gambaran dinamika industri telekomunikasi yang sangat kompetitif. Pada tahun lalu, INET sempat menikmati momentum pertumbuhan yang solid sebelum akhirnya menghadapi tekanan jual yang cukup masif belakangan ini. Investor kini cenderung lebih berhati-hati dalam menakar risiko di tengah valuasi yang dinilai sudah cukup premium oleh sebagian pengamat.

Ke depan, keberhasilan INET dalam mengeksekusi rencana ekspansinya akan menjadi penentu utama arah pergerakan harga saham di bursa. Pasar akan terus memantau apakah realisasi pertumbuhan laba mampu mengejar ketertinggalan valuasi yang saat ini berada di level tinggi. Keseimbangan antara ekspektasi pasar yang besar dan hasil kinerja riil akan menjadi kunci stabilitas saham INET sepanjang tahun ini.

Sumber: Premium.bisnis

https://premium.bisnis.com/read/20260304/658/1957882/bertaruh-pada-saham-sinergi-inti-inet-antara-valuasi-dan-ekspektasi