JAKARTA, BisnisMarket.com - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan pasar setelah sempat melampaui angka 17.000 per USD.

Batas psikologis tersebut menggambarkan tingkat keprihatinan pasar, meski banyak analis yang meyakini bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh dan bisa membawa rupiah kembali menguat ketika gejolak global mereda.

David Sutyanto, Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal ketimbang perubahan ekonomi domestik yang mendasar.

Menurutnya, meskipun rupiah sempat berada di level kritis 17.000 per dolar AS pada pagi hari, tekanan tersebut lebih merupakan dampak dari sentimen global yang dipicu oleh beberapa faktor.

“Pelemahan ini lebih banyak disebabkan oleh penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak dunia, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hal ini menciptakan kondisi risk-off yang membuat investor global cenderung mengurangi eksposurnya pada pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” jelas David, Senin (9/3).

David menganggap bahwa otoritas moneter Indonesia memiliki pandangan yang tepat, di mana pelemahan rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi domestik yang sebenarnya.

"Secara makro, ekonomi Indonesia masih cukup stabil. Inflasi terkendali, dengan sasaran sekitar 2,5 persen untuk periode 2026-2027, sementara penyaluran kredit tumbuh hampir 10 persen," tambahnya.

Dalam penjelasannya, David juga mengutip kebijakan pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang dapat mendukung penguatan rupiah dalam jangka panjang.

Kebijakan ini memaksa sebagian hasil ekspor untuk disimpan lebih lama di dalam negeri, yang dapat meningkatkan likuiditas dolar di sistem keuangan domestik.