JAKARTA, BisnisMarket.com - Di era digital yang serba cepat ini, setiap kebijakan pemerintah seolah berada di bawah kaca pembesar publik. Namun, di antara banjir informasi dan opini yang bertebaran, seringkali kritik yang disampaikan justru berubah menjadi tontonan semata, kehilangan esensinya sebagai upaya perbaikan.

Pertanyaan besar pun muncul: Sudah benarkah cara kita menyikapi program besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG)? Apakah kita benar-benar ingin melihatnya sukses, atau hanya sekadar mencari bahan untuk konten yang viral?

Kritik Itu Wajib, tapi Bukan untuk Sensasi

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah memang menjadi sorotan utama belakangan ini. Sebagai program strategis yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat, wajar jika ia menerima perhatian besar, baik berupa pujian maupun kritikan.

Namun, Menteri Koordinator Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), memiliki pandangan tajam namun bijak mengenai hal ini. Ia menegaskan bahwa menyampaikan masukan atau keluhan terkait program ini tidak perlu diubah menjadi konten media sosial yang berorientasi pada sensasi semata.

Menurutnya, kritik yang sehat seharusnya bertujuan untuk menemukan solusi, bukan untuk mencari kesalahan atau memancing emosi publik. Ketika ada masalah, baik itu soal rasa, gizi, maupun pelayanan, jalur formal dan komunikasi langsung dinilai jauh lebih efektif daripada sekadar memposting keluhan di dunia maya.

Pesan Tegas: Sampaikan Langsung, Jangan Main Media

Dalam pandangannya yang penuh kearifan lokal dan logika birokrasi, Zulhas mengajak semua pihak untuk lebih dewasa dalam menyikapi dinamika program pemerintah. Alih-alih sibuk membuat narasi yang memojokkan, lebih baik hambatan yang ada disampaikan secara transparan kepada pihak berwenang.

"Tak perlu jadi konten, sampaikan langsung masalahnya agar bisa segera diperbaiki," tegas Zulhas, dilansir dari Kompas.com (26/4).