BISNIS MARKET - Kasus keracunan makanan yang diduga terkait dengan program makan bergizi gratis (MBG) terus berulang. Laporan dari berbagai daerah menunjukkan gejala serupa pada siswa, seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare setelah mengonsumsi menu yang disediakan.
Di Garut saja, jumlah korban keracunan terus bertambah, bahkan mencapai ratusan orang. Meskipun mayoritas korban hanya dirawat jalan, ada juga yang harus menjalani rawat inap.
Penyelidikan awal menunjukkan berbagai kemungkinan penyebab, termasuk kontaminasi bakteri seperti E. coli dan Salmonella.
Para ahli kesehatan masyarakat juga menyoroti masalah dalam rantai pasok dan pengolahan makanan, mulai dari bahan baku yang tidak higienis hingga penyimpanan dan distribusi yang tidak tepat.
Beberapa dugaan menyebutkan bahwa makanan dimasak terlalu dini, yang memberi waktu bagi bakteri untuk berkembang biak sebelum makanan dikonsumsi.
Menanggapi maraknya kasus ini, Istana Kepresidenan melalui Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyampaikan permohonan maaf. Ia menegaskan bahwa insiden ini bukanlah hal yang diharapkan dan bukan pula sebuah kesengajaan.
Prasetyo menyatakan bahwa pemerintah akan segera mengambil langkah-langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Istana meminta Badan Gizi Nasional (BGN) dan pihak terkait untuk melakukan evaluasi total terhadap pelaksanaan program MBG. Evaluasi ini mencakup seluruh aspek, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, hingga sistem distribusi.
Pemerintah memastikan bahwa seluruh korban yang terdampak keracunan harus mendapatkan penanganan medis secepat dan sebaik mungkin.