JAKARTA, BisnisMarket.com - Indonesia tengah berada di persimpangan penting dalam strategi energi nasional. Di tengah tekanan global dan volatilitas harga, pemerintah mulai membuka pintu lebih lebar bagi impor minyak dari Rusia. Namun di saat yang sama, persoalan LPG justru menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Langkah ini bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan bagian dari strategi besar menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan energi di tengah dinamika geopolitik global.
Minyak Rusia: Hampir Final
Dilansir dari Bloomberg Technoz (17/4), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa proses impor minyak dari Rusia kini sudah berada pada tahap akhir. Ia menyatakan, “Untuk minyak Rusia itu sudah hampir final.” Pernyataan ini menandakan bahwa Indonesia semakin serius menjajaki diversifikasi sumber energi, terutama dari negara-negara non-tradisional.
Secara ekonomi, langkah ini dinilai strategis. Rusia dikenal menawarkan harga minyak yang lebih kompetitif akibat sanksi Barat. Bagi Indonesia, ini membuka peluang menekan biaya impor energi yang selama ini membebani neraca perdagangan.
Menurut data Kementerian ESDM, impor minyak mentah dan BBM masih menjadi salah satu penyumbang defisit transaksi berjalan. Dengan harga yang lebih murah, ruang fiskal pemerintah berpotensi menjadi lebih longgar.
LPG: Tantangan yang Tak Kunjung Usai
Namun cerita berbeda terjadi pada LPG. Bahlil mengakui bahwa proses pengadaan LPG jauh lebih kompleks. Ia menegaskan bahwa “LPG butuh perjuangan,” mengingat ketergantungan Indonesia terhadap impor komoditas ini masih sangat tinggi.
Saat ini, lebih dari 70 persen kebutuhan LPG nasional dipenuhi dari impor. Hal ini membuat Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga global dan gangguan pasokan.
Dari perspektif bisnis, kondisi ini menciptakan tekanan besar bagi subsidi energi. Anggaran negara harus menanggung lonjakan harga LPG yang terus meningkat, terutama sejak krisis energi global pasca konflik Rusia-Ukraina.