JAKARTA, BisnisMarket.com – Keputusan Amerika Serikat (AS) untuk menyita kapal kargo Iran pada Minggu (19/4/2026) memperburuk situasi lalu lintas komersial di Selat Hormuz yang sebelumnya sudah terganggu akibat perang Teluk Persia

Penyitaan kapal ini menandai langkah pertama dari blokade AS yang semakin memperumit pemulihan aktivitas maritim di selat vital tersebut.

Pada Jumat (17/4/2026), dunia menyaksikan pembukaan sementara jalur transportasi maritim di Selat Hormuz setelah tujuh pekan ketegangan tinggi, yang menyebabkan lonjakan harga minyak dan meningkatnya kegiatan kapal-kapal yang mencoba menyeberang. 

Namun, harapan itu langsung meredup pada Minggu malam saat angkatan laut AS menyita kapal kargo Iran di perairan lepas pantai Jask, Teluk Oman.

Langkah penyitaan ini semakin memperburuk ketegangan antara AS dan Iran dan menambah rasa was-was di kalangan pemilik kapal yang beroperasi di kawasan tersebut. 

Harga minyak acuan merespons dengan lonjakan tajam, menandakan potensi krisis pasokan yang lebih dalam lagi.

Kepala Analisis APAC di Vortexa Ltd, Ivan Mathews, menjelaskan bahwa "volatilitas yang berkelanjutan akan menghalangi sebagian besar, jika tidak semua, pemilik kapal untuk mengadopsi pendekatan hati-hati. Mereka lebih cenderung untuk memilih pendekatan 'tunggu dan lihat,' yang semakin memperburuk situasi."

Pada Senin (20/4/2026), hanya beberapa kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz, termasuk dua kapal pengangkut gas minyak cair (LPG) dan dua kapal tanker produk minyak yang terhubung dengan Iran. 

Namun, banyak kapal yang memilih untuk membalikkan arah atau menunggu kejelasan lebih lanjut.

Halaman:
I
I
Editor: iqbal
Penulis: iqbal ajie saputra