BISNISMARKET.COM - Bank Indonesia (BI) baru-baru ini merilis data yang menunjukkan tren kontraksi dalam penyaluran kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sepanjang Februari 2026. Angka menunjukan bahwa total kredit UMKM menyusut sebesar 0,6 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).
Penyusutan ini menandakan bahwa sektor pembiayaan UMKM masih berada dalam tekanan, melanjutkan tren negatif yang tercatat pada bulan sebelumnya. Kontraksi pada Januari 2026 sebelumnya tercatat sedikit lebih rendah, yakni sebesar 0,5 persen secara tahunan.
Kondisi ini terungkap dalam publikasi terbaru Bank Indonesia mengenai Analis Perkembangan Uang Beredar yang diterbitkan oleh otoritas moneter tersebut. Data tersebut mengindikasikan adanya tantangan struktural yang dihadapi oleh segmen usaha non-mikro.
"Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kinerja kredit UMKM skala kecil dan menengah yang masih tertekan, meski kredit skala mikro tetap tumbuh," demikian temuan yang disajikan dalam analisis tersebut.
Secara lebih mendalam, segmen mikro menunjukkan ketahanan yang sangat tipis namun masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif. Kredit pada skala mikro hanya tumbuh 0,004 persen secara tahunan, mencapai nominal Rp659,5 triliun.
Angka pertumbuhan mikro tersebut sebenarnya merupakan perlambatan signifikan jika dibandingkan dengan pencapaian bulan Januari 2026, yang sempat tumbuh sebesar 0,1 persen. Ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan mikro mulai kehilangan momentumnya.
Sementara itu, segmen usaha kecil dan menengah menjadi penyumbang utama kontraksi secara keseluruhan. Kredit UMKM skala menengah dilaporkan mengalami kontraksi cukup dalam, yakni sebesar 0,4 persen, menyusut menjadi Rp332,9 triliun.
"Sementara itu, kredit UMKM skala menengah juga terkontraksi sebesar 0,4 persen menjadi Rp332,9 triliun," demikian keterangan yang dilansir dari analisis tersebut, menegaskan beban sektor ini. Perlu dicatat bahwa segmen menengah ini juga telah mengalami pertumbuhan negatif pada Januari 2026, yaitu minus 1,1 persen.
Berdasarkan klasifikasi jenis penggunaan, pelemahan paling signifikan dalam penyaluran kredit UMKM pada Februari 2026 berasal dari pos Kredit Modal Kerja (KMK). "Berdasarkan jenis penggunaan, kontraksi kredit UMKM pada Februari 2026 terutama bersumber dari kontraksi yang lebih dalam pada Kredit Modal Kerja (KMK) yang menurun sebesar 4,9 persen yoy menjadi Rp992,8 triliun," ungkap dokumen BI.