SERANG, BisnisMarket.com - Program Koperasi Desa Merah Putih terus menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Sejak diperkenalkan, inisiatif ini memunculkan beragam pandangan, terutama terkait peran ritel modern yang disebut-sebut mendominasi sektor perdagangan di berbagai daerah.
Sebagian pihak menilai keberadaan koperasi desa dapat menjadi solusi untuk memperkuat ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa program tersebut dapat memicu persaingan dengan ritel modern yang sudah lebih dulu berkembang.
Menanggapi isu tersebut, Ketua Umum CEO Business Forum Indonesia sekaligus Dewan Penasihat Asosiasi Franchise Indonesia, Jahja Soenarjo, menilai polemik tersebut seharusnya tidak berujung pada konflik antara koperasi dan ritel modern. Ia justru melihat peluang besar untuk membangun kolaborasi yang saling menguntungkan.
Menurut Jahja, program Koperasi Desa Merah Putih merupakan langkah positif pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan, sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945.
Ia menegaskan bahwa kalangan pelaku usaha pada prinsipnya mendukung setiap kebijakan pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami tentu siap mendukung program pemerintah yang memiliki tujuan baik bagi masyarakat. Harapannya, implementasi program ini dapat berjalan secara profesional, transparan, dan mengedepankan kolaborasi,” ujarnya.
Ritel Modern Berawal dari Usaha Kecil
Jahja juga menanggapi anggapan bahwa ritel modern dari sektor swasta telah memonopoli perdagangan. Ia menilai pandangan tersebut kurang tepat.
Menurutnya, banyak jaringan ritel modern yang saat ini berkembang pesat justru berawal dari usaha kecil seperti toko kelontong yang kemudian tumbuh melalui sistem manajemen yang lebih baik.