Eskalasi konflik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah mulai memberikan tekanan nyata terhadap stabilitas ekonomi domestik Indonesia. Kenaikan harga minyak mentah global yang dipicu ketegangan geopolitik tersebut berpotensi memicu penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Pemerintah kini dihadapkan pada pilihan sulit antara menjaga daya beli masyarakat atau mengamankan kesehatan anggaran negara.
Piter Abdullah selaku Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies menilai tekanan terhadap harga energi domestik sulit untuk dihindari. Menurutnya, persoalan utama saat ini bukan lagi soal kemungkinan kenaikan harga, melainkan kapasitas fiskal pemerintah dalam meredam gejolak tersebut. Ia menekankan bahwa kebijakan subsidi akan menjadi kunci utama dalam menghadapi fluktuasi pasar energi internasional saat ini.
Dalam keterangan resminya pada Selasa (3/3), Piter menjelaskan bahwa setiap keputusan yang diambil pemerintah memiliki konsekuensi ekonomi yang signifikan. Jika harga BBM tetap ditahan melalui subsidi, beban fiskal pada APBN dipastikan akan membengkak secara drastis. Namun, apabila harga dilepas mengikuti mekanisme pasar, maka risiko lonjakan inflasi yang kuat akan langsung memukul sektor konsumsi masyarakat.
Kontribusi sektor energi terhadap angka inflasi nasional tergolong sangat besar melalui efek berantai yang ditimbulkannya. Kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga, tetapi juga merembet ke biaya produksi dan distribusi logistik. Piter menyebutkan bahwa dampak lanjutan ini akan memengaruhi harga berbagai barang konsumsi di pasar secara bertahap tergantung respons kebijakan.
Kerentanan Indonesia terhadap gejolak global disebabkan oleh tingginya ketergantungan pada impor minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan nasional. Saat ini, konsumsi minyak dalam negeri mencapai hampir 1,5 juta barel per hari, sementara produksi domestik tidak sampai setengahnya. Kondisi ini membuat ekonomi RI sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak dunia serta fluktuasi nilai tukar dolar AS.
Di pasar internasional, harga minyak mentah tercatat kembali melonjak pada perdagangan Selasa (3/3) seiring meluasnya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Harga minyak Brent merangkak naik ke level US$78,83 per barel, setelah sebelumnya sempat menyentuh angka tertinggi US$82,37 per barel. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penguatan hingga mencapai posisi US$71,97 per barel.
Kekhawatiran pasar semakin meningkat menyusul adanya ancaman gangguan pasokan dari jalur distribusi energi yang sangat vital di Timur Tengah. Isu penutupan Selat Hormuz menjadi faktor utama yang memicu kepanikan investor global terhadap ketersediaan stok minyak mentah dunia. Situasi ini menuntut pemerintah Indonesia untuk segera menyiapkan langkah mitigasi strategis guna menghadapi ketidakpastian ekonomi di masa mendatang.
Sumber: Cnnindonesia