Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah kini menjadi perhatian utama pasar global. Situasi yang kian memanas ini diprediksi akan menjadi katalis utama bagi lonjakan instrumen aset aman atau safe haven. Para investor saat ini mulai beralih mengamankan modal mereka di tengah ketidakpastian perang yang melibatkan negara adidaya tersebut.
Berdasarkan data dari Trading View, harga emas dunia saat ini telah menyentuh angka US$5.278,51 per troy ounce. Sepanjang tahun 2026 berjalan, komoditas logam mulia ini tercatat sudah mengalami penguatan signifikan sebesar 22,01 persen. Tren kenaikan ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan memburuknya hubungan diplomatik dan militer antara kedua negara tersebut.
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memberikan proyeksi bahwa emas berpotensi menguji level tertinggi baru dalam waktu dekat. Ia menyebutkan bahwa jika intensitas peperangan terus meningkat, harga emas dunia berpeluang besar mencapai US$6.000 per troy ounce pada Maret ini. Keterangan resmi tersebut disampaikan pada hari Minggu (28/2/2026) menanggapi dinamika pasar yang sedang bergejolak.
Kenaikan harga di pasar global dipastikan akan merembet pada nilai jual logam mulia di pasar dalam negeri Indonesia. Ibrahim memperkirakan harga emas Antam bakal menyentuh level baru di angka Rp3,5 juta per gram dalam waktu dekat. Padahal, pada perdagangan Sabtu (28/2), harga emas Antam masih berada di posisi Rp3,08 juta per gram yang berarti ada potensi kenaikan 13,63 persen.
Untuk pergerakan pekan depan, harga emas dunia diprediksi akan berfluktuasi pada rentang US$5.365 hingga US$5.500 per troy ounce. Ibrahim menambahkan bahwa hingga penutupan pasar hari Sabtu pagi, target harga emas dunia sangat mungkin tertahan di level US$5.500 per troy ounce. Kondisi tersebut secara otomatis akan mendorong harga emas lokal menuju angka Rp3.400.000 per gram.
Selain faktor perang, kenaikan harga minyak dunia juga turut memperburuk ketidakpastian di pasar finansial global saat ini. Kebijakan tarif dagang yang diterapkan Amerika Serikat terhadap sejumlah negara mitranya semakin menambah beban ekonomi dunia. Semua faktor tersebut berkumpul menciptakan sentimen negatif yang mendorong permintaan terhadap emas menjadi semakin masif bagi para pelaku pasar.
Presiden AS Donald Trump secara resmi telah menginstruksikan dimulainya Operasi Epic Fury untuk menargetkan pihak Iran secara langsung. Sekretaris Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengonfirmasi perintah tersebut melalui media sosial X pada Minggu (1/3/2026). Hegseth menegaskan bahwa tindakan tegas ini diambil karena Iran dianggap terus menolak kesepakatan damai dan mengancam warga Amerika Serikat.
Sumber: Market.bisnis