BISNISMARKET.COM - PT Palma Serasih Tbk (PSGO) melaporkan adanya penurunan pada laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sepanjang kuartal pertama tahun 2026. Angka laba bersih tercatat sebesar Rp77,96 miliar, mengalami kontraksi sebesar 14,39% dibandingkan capaian di periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa laba bersih pada kuartal I 2025 masih berada di level Rp91,06 miliar, menandakan adanya tekanan signifikan pada profitabilitas perusahaan di awal tahun fiskal 2026 ini.
Penurunan kinerja laba ini berbanding lurus dengan melemahnya performa penjualan neto perusahaan. Berdasarkan data yang dipublikasikan, penjualan neto PSGO mengalami penurunan tahunan sebesar 8,73% selama periode tersebut.
Dilansir dari STOCKWATCH.ID, pada akhir Maret 2026, total pendapatan yang berhasil dibukukan oleh PSGO adalah sebesar Rp527,95 miliar. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan pendapatan pada kuartal I 2025 yang mencapai Rp578,47 miliar.
Kontributor utama dari pendapatan perusahaan masih didominasi oleh penjualan minyak kelapa sawit mentah atau CPO, yang menyumbang hingga Rp476,33 miliar. Sementara itu, penjualan produk inti kelapa sawit (PK) memberikan kontribusi sebesar Rp53,61 miliar.
Akibat dari penurunan pendapatan ini, laba bruto perusahaan ikut tergerus, meskipun beban pokok penjualan juga berhasil ditekan. Laba bruto PSGO tercatat sebesar Rp191,21 miliar, lebih rendah dari perolehan Rp200,49 miliar pada kuartal I 2025.
Dari segi operasional, manajemen perusahaan menunjukkan upaya pengendalian biaya dengan menekan beban penjualan menjadi Rp19,69 miliar, turun dari Rp23,14 miliar. Namun, beban umum dan administrasi justru mengalami kenaikan menjadi Rp54,24 miliar dari periode sebelumnya.
Salah satu faktor yang membantu menahan penurunan laba lebih dalam adalah efisiensi pada pos beban keuangan. Beban keuangan PSGO tercatat turun drastis menjadi Rp14,12 miliar, dibandingkan dengan Rp22,46 miliar pada kuartal I 2025.
Mengenai posisi neraca per 31 Maret 2026, total aset perusahaan tercatat sebesar Rp3,25 triliun, yang mana ini merupakan penurunan 18,75% dari posisi akhir Desember 2025 senilai Rp4,00 triliun.