BISNISMARKET.COM - PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (ATLA) mencatatkan penurunan kinerja keuangan yang cukup signifikan pada penutupan tahun fiskal yang berakhir 31 Maret 2026. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp621,13 juta, atau setara dengan Rp0,10 per saham pada periode tersebut.
Angka laba bersih ini menunjukkan penurunan yang cukup tajam, yaitu menyusut 40,95% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni tahun 2025. Pada tahun 2025, ATLA berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,05 miliar atau Rp0,17 per saham.
Penurunan laba bersih ini berbanding lurus dengan pergerakan pendapatan perusahaan sepanjang tahun 2026. Menurut catatan dalam publikasi laporan keuangan, total pendapatan ATLA pada tahun 2026 hanya mencapai Rp16,44 miliar.
Pendapatan tersebut merupakan kontraksi yang cukup besar, yakni turun sebesar 31,62% dari realisasi pendapatan tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp24,05 miliar. Penurunan ini menjadi indikator utama tekanan yang dihadapi perusahaan.
Seluruh sumber pendapatan ATLA selama tahun 2026 sepenuhnya berasal dari lini bisnis jasa survei. Hal ini menegaskan posisi perusahaan yang sangat bergantung pada segmen layanan teknis tersebut dalam menghasilkan pundi-pundi pendapatan.
Kontribusi pendapatan terbesar datang dari satu pelanggan utama, yaitu PT Timas Suplindo, yang menyumbang sebesar Rp13,23 miliar. Jumlah ini merepresentasikan porsi signifikan, yakni 80,48% dari total keseluruhan pendapatan perseroan.
Selain itu, pendapatan dari pelanggan lain, yakni PT PGAS Solution, menyumbang sebesar Rp3,21 miliar, yang setara dengan 19,52% dari total pendapatan tahun 2026. Kedua pelanggan ini menjadi tulang punggung operasional ATLA.
Seiring dengan kontraksi pendapatan, beban pokok pendapatan ATLA juga berhasil ditekan, menyusut 36,08% menjadi Rp12,98 miliar dari posisi Rp20,31 miliar pada tahun 2025. Meskipun demikian, beban pokok yang turun tidak mampu menahan penurunan laba kotor menjadi Rp3,45 miliar pada 2026 dari Rp3,73 miliar di tahun sebelumnya.
Dari sisi operasional, perusahaan menunjukkan adanya upaya efisiensi pada beban umum dan administrasi, yang berhasil dikurangi dari Rp2,64 miliar menjadi Rp2,49 miliar pada tahun 2026. Namun, upaya efisiensi ini tergerus oleh besarnya laju penurunan pendapatan secara keseluruhan.