PT Pertamina (Persero) kini tengah bersiaga penuh menghadapi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Perusahaan pelat merah ini terus memantau pergerakan distribusi energi global guna mengantisipasi gangguan pasokan minyak mentah ke tanah air. Langkah antisipasi ini menjadi krusial mengingat tensi geopolitik di wilayah tersebut dilaporkan semakin memanas sejak awal Maret lalu.

Muhammad Baron selaku Vice President Corporate Communication Pertamina membeberkan bahwa sebagian besar pasokan minyak Indonesia bergantung pada jalur laut tersebut. Ia menyebutkan sekitar 19 persen kargo minyak mentah nasional yang berasal dari Timur Tengah harus melewati Selat Hormuz. Jalur ini merupakan titik nadi perdagangan energi dunia yang kini berada dalam zona risiko tinggi akibat peperangan.

Pernyataan tersebut disampaikan Baron dalam acara buka puasa bersama awak media di Grha Pertamina, Jakarta, pada Selasa (3/3). Momentum ini dimanfaatkan untuk memberikan kejelasan terkait dampak serangan yang pecah sejak Minggu (1/3) terhadap ketahanan energi Indonesia. Meskipun situasi global tidak menentu, Pertamina memastikan bahwa pengawasan terhadap rantai pasok tetap dilakukan secara ketat. "Saat ini kami sudah melaksanakan proses distribusi melalui sistem reguler alternatif maupun emergensi," ujar Muhammad Baron saat ditemui di lokasi acara. Ia menegaskan bahwa Pertamina telah menyiapkan berbagai skema distribusi cadangan untuk menjaga stabilitas ketersediaan energi nasional. Strategi ini diterapkan agar kebutuhan bahan bakar di dalam negeri tetap terpenuhi tanpa kendala berarti.

Pihak manajemen menekankan bahwa tata kelola yang transparan dan akuntabel menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika pasar minyak dunia. Upaya mitigasi tambahan terus diimplementasikan untuk meminimalkan potensi hambatan distribusi yang mungkin timbul di kemudian hari. Pertamina berupaya keras agar gejolak harga maupun kelangkaan stok dapat dihindari melalui perencanaan yang matang.

Saat ini, berbagai langkah strategis tersebut masih dalam tahap eksekusi lapangan dengan memperhatikan perkembangan situasi di Selat Hormuz. Baron menjelaskan bahwa pola distribusi yang ada terus dievaluasi secara berkala sesuai dengan tingkat ancaman keamanan di jalur pelayaran. Koordinasi lintas sektor juga ditingkatkan demi menjamin kelancaran arus logistik minyak mentah menuju kilang-kilang domestik.

Melalui serangkaian kebijakan responsif ini, Pertamina optimis bahwa stok energi nasional akan tetap berada pada level yang aman. Masyarakat dihimbau untuk tidak panik karena pemerintah melalui BUMN energi telah menyiapkan bantalan risiko yang cukup kuat. Keberlanjutan pasokan tetap menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik mancanegara yang terus bergejolak.

Sumber: Cnnindonesia

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260304083138-85-1334081/pertamina-ungkap-segini-besaran-impor-minyak-ri-lewat-selat-hormuz