Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kini tengah memperketat pengawasan terhadap stabilitas sektor finansial nasional akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Langkah ini diambil menyusul serangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu guncangan hebat di pasar global. OJK berkomitmen untuk terus memantau setiap dinamika internasional guna melindungi ekosistem keuangan domestik dari dampak negatif.

Pejabat sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa situasi di kawasan tersebut menjadi perhatian serius otoritas. Ia menginstruksikan seluruh lembaga jasa keuangan untuk segera meningkatkan kewaspadaan dan merumuskan langkah antisipatif. Hal ini krusial dilakukan untuk memitigasi risiko lanjutan yang mungkin timbul dari ketidakpastian geopolitik global saat ini.

Dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) di Jakarta, Selasa (3/3), Friderica menyampaikan urgensi bagi pelaku industri untuk tetap waspada. Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah diyakini memiliki korelasi kuat terhadap kondisi ekonomi makro Indonesia. Oleh karena itu, kesiapan internal setiap lembaga keuangan menjadi kunci utama dalam menghadapi fluktuasi pasar yang tidak terduga. "Lembaga jasa keuangan kami minta terus mencermati situasi yang terjadi serta melakukan antisipasi dampaknya terhadap kondisi debitur dan pasar keuangan itu sendiri," ujar Friderica. Pernyataan tersebut menekankan perlunya evaluasi mendalam terhadap kemampuan bayar nasabah di tengah tekanan ekonomi global. OJK berharap langkah mitigasi yang tepat dapat menjaga ketahanan sektor jasa keuangan tetap kokoh.

Pjs Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, turut menyoroti performa pasar saham domestik yang mulai terdampak volatilitas tinggi. Meskipun sempat menunjukkan tanda-tanda mereda pada Februari 2026, tekanan kembali menguat begitu memasuki awal Maret seiring memanasnya konflik. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan kekhawatiran investor terhadap ketidakstabilan di wilayah Timur Tengah.

Berdasarkan data per Jumat (27/2), IHSG ditutup pada level 8.235,49, mengalami koreksi sebesar 1,13 persen secara bulanan (month to date). Jika dihitung sepanjang tahun berjalan (year to date), pelemahan indeks kebanggaan nasional ini telah mencapai angka 4,76 persen. Hasan menegaskan bahwa OJK akan terus memonitor pergerakan pasar secara intensif untuk menjaga kepercayaan para pelaku pasar modal.

OJK juga memperkuat sinergi dengan berbagai Self Regulatory Organization (SRO) seperti BEI, KSEI, dan KPEI guna merespons dinamika ini. Koordinasi intensif dilakukan untuk memastikan kebijakan yang diambil tepat sasaran dan mampu meredam gejolak yang berlebihan. Dengan langkah proaktif ini, diharapkan stabilitas pasar modal dan industri keuangan nasional tetap terjaga meski di tengah badai geopolitik.

Sumber: Cnnindonesia

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260303204342-78-1333995/konflik-timur-tengah-memanas-ojk-minta-lembaga-jasa-keuangan-siaga