JAKARTA, BisnisMarket.com - Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya berjuang melawan penyakit mematikan, sementara mimpi dan harapan seolah terenggut paksa? Di tengah badai kehidupan, ada kisah luar biasa tentang seorang musisi muda dari Pontianak yang menolak untuk tunduk pada takdir. Ia adalah Rifqi Luthfian Ilman, seorang seniman berbakat yang dua tahun terakhir ini telah menjalani pertempuran sengit melawan kanker usus stadium III. Namun, alih-alih menyerah, Rifqi justru menemukan kekuatan baru dalam dirinya, sebuah kekuatan yang lahir dari nada dan melodi yang ia ciptakan.
Perjuangan Melawan Kanker Usus Stadium III
Dilansir dari Kompas.com (10/4), perjalanan Rifqi dimulai pada Maret 2024, ketika ia didiagnosis menderita kanker usus stadium III. Awalnya, gejala yang ia rasakan seperti gangguan lambung biasa, mual, muntah, dan nyeri perut. Namun, kondisinya memburuk drastis hingga ia harus dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani operasi darurat. "Awalnya aku denial. Ngerasa cuma sakit lambung biasa. Tapi ternyata sudah kritis, sampai akhirnya harus operasi darurat," ungkap Rifqi, Jumat (9/4/2026). Operasi besar tersebut berhasil mengangkat tumor di usus besarnya, namun diagnosis kanker mengkonfirmasi bahwa perjuangan Rifqi baru saja dimulai.
Terapi Intensif dan Ujian Mental
Setelah operasi, Rifqi harus menjalani serangkaian kemoterapi yang melelahkan. Dimulai di Pontianak, ia kemudian memutuskan pindah ke Jakarta untuk mendapatkan fasilitas medis yang lebih memadai. Total 18 kali kemoterapi ia jalani, enam kali di Pontianak dan dua belas kali di Jakarta. Masa-masa ini menjadi ujian terberat bagi mentalnya. Sempat dinyatakan remisi, kanker kembali muncul, menguji ketahanan jiwanya hingga ia pernah berpikir untuk menyerah. "Di titik itu mental benar-benar diuji. Aku sempat ngerasa ada di titik terendah, bahkan pernah kepikiran buat nyerah," ujarnya pilu.
Musik Sebagai Terapi dan Sumber Kekuatan
Di tengah kondisi fisik yang melemah dan tekanan mental yang luar biasa, Rifqi menemukan pelipur lara sekaligus sumber kekuatannya dalam musik. Ia tetap produktif berkarya, menjadikan proses kreatif sebagai bentuk terapi penyembuhan. Salah satu karya terindahnya lahir pada fase ini, lagu berjudul "4.30", yang dirilis pada Agustus 2025, bertepatan dengan kemoterapi terakhirnya. Lagu ini terinspirasi dari kebiasaannya bangun pukul 04.30 setiap hari, momen refleksi mendalam tentang jatuh bangun kehidupannya. "Jam 4.30 itu waktu aku bangun tiap hari. Itu jadi momen refleksi. Di lagu itu aku cerita tentang jatuh bangun aku, tentang titik terendah yang nggak pernah aku bayangkan sebelumnya," jelas Rifqi.
Kembali ke Panggung dengan Perspektif Baru
Selama menjalani pengobatan di Jakarta, Rifqi sempat menjauh dari lingkungan lamanya di Pontianak untuk fokus pada pemulihan. Namun, proses ini justru membawanya kembali ke dunia musik dengan perspektif yang lebih matang. "Aku ke Jakarta juga buat ‘healing’. Tapi ternyata di sana tetap ketemu teman-teman, tetap berkegiatan, dan di situ aku lanjut bikin lagu lagi," ungkapnya. Ia juga sempat mempertimbangkan bantuan profesional untuk mengatasi tekanan mentalnya, namun memilih mengalihkan beban tersebut melalui aktivitas berkarya. "Sempat mikir mau ke psikolog, tapi akhirnya aku alihkan ke berkarya. Yang bikin semangat sembuh juga orang tuaku," tambahnya.