JAKARTA, BisnisMarket.com – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai isu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terjadi di Tokopedia lebih merefleksikan proses konsolidasi yang sedang berlangsung di industri teknologi, alih-alih menjadi sinyal pelemahan ekonomi digital nasional.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa, menyatakan bahwa jika PHK tersebut benar terjadi, langkah tersebut merupakan bagian dari penyesuaian model bisnis yang kini banyak dilakukan oleh perusahaan teknologi seiring perubahan lanskap industri.

"Perusahaan teknologi saat ini dituntut untuk lebih mengutamakan profitabilitas, efisiensi operasional, dan produktivitas dibandingkan strategi ekspansi agresif yang sebelumnya banyak didorong oleh pendanaan murah," ujar Erwin dalam keterangannya, Minggu (5/7/2026).

Menurut Erwin, sejumlah faktor mendorong perusahaan melakukan restrukturisasi organisasi, termasuk perlambatan konsumsi masyarakat, persaingan bisnis yang semakin ketat, tingginya biaya akuisisi pelanggan, hingga perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Meskipun demikian, Erwin menegaskan bahwa fundamental ekonomi digital Indonesia masih cukup kuat. Hal ini tercermin dari nilai transaksi digital yang terus tumbuh dan tingkat adopsi teknologi yang semakin meningkat.

"Tantangannya adalah bagaimana perusahaan mampu membangun model bisnis yang sehat dan berkelanjutan," katanya.

Terkait potensi gelombang PHK di perusahaan digital lainnya, Erwin berharap kondisi tersebut tidak meluas. Namun, ia mengakui penyesuaian jumlah tenaga kerja masih mungkin terjadi apabila tekanan terhadap profitabilitas terus berlanjut. Ia juga menekankan bahwa kondisi masing-masing perusahaan berbeda, sehingga tidak tepat menjadikan satu kasus sebagai cerminan keseluruhan industri digital.

Erwin menambahkan, masih banyak perusahaan yang melakukan ekspansi dan membuka lowongan kerja, khususnya di bidang AI, komputasi awan (cloud computing), keamanan siber, analitik data, serta layanan digital berbasis enterprise.

Ia memproyeksikan, hingga akhir tahun, sejumlah sektor diperkirakan masih menghadapi tekanan. Sektor tersebut antara lain e-commerce yang sangat bergantung pada strategi subsidi dan promosi, startup yang belum mencapai profitabilitas, industri padat karya berorientasi ekspor, serta sektor ritel modern dan logistik yang sensitif terhadap daya beli masyarakat.