BISNISMARKET.COM - Kinerja sektor ekspor komoditas besi dan baja Indonesia menunjukkan tekanan signifikan memasuki periode awal tahun 2026. Situasi ini menjadi perhatian serius bagi pemangku kepentingan industri nasional.
Permasalahan ini menjadi sorotan utama bagi Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) yang memberikan pandangan mengenai kondisi terkini sektor unggulan nonmigas tersebut.
Direktur Eksekutif IISIA, Harry Warganegara, menggarisbawahi bahwa pelemahan kinerja ekspor ini dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor yang berasal dari kondisi eksternal. Faktor-faktor global ini masih terus membayangi prospek industri baja di pasar internasional.
"Pelemahan ini disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal yang masih mendera industri baja di tingkat global," jelas Harry Warganegara.
Salah satu faktor krusial yang disorot adalah tingkat permintaan di pasar internasional yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang optimal. Kondisi ini berdampak langsung pada volume ekspor produk baja dari Indonesia.
"Faktor utama yang disorot adalah tingkat permintaan yang belum menunjukkan pemulihan optimal di pasar internasional," tambah Harry Warganegara.
Kondisi permintaan global yang lesu ini diperparah dengan adanya persaingan yang semakin ketat di berbagai pasar tujuan ekspor. Hal ini memaksa para pelaku industri baja nasional untuk bekerja lebih keras dalam mempertahankan pangsa pasar.
Situasi yang dihadapi ini mengindikasikan perlunya strategi adaptif dari industri baja Indonesia untuk menghadapi dinamika pasar global yang cenderung melambat pada awal tahun 2026.
Dilansir dari TREN.BISNISMARKET.COM, tantangan ganda ini menjadi PR besar bagi industri baja nasional dalam menjaga momentum pertumbuhan ekspor mereka di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.