Jakarta - Industri musik dangdut Tanah Air kembali kedatangan amunisi segar. Bukan dari penyanyi senior, tapi dari seorang gadis muda asal Lampung Tengah bernama Jingga Vanessa. Ia resmi melepas single dangdut ambyaran berjudul 'Kembang Sore' ke pasaran, dan para pecinta musik bergenre ini langsung disuguhi nuansa yang kental dengan rasa.
Jingga tidak main-main dengan karyanya. Lewat 'Kembang Sore', ia menghadirkan emosi yang mentah dan dekat dengan realitas kehidupan banyak orang. Lagu ini bicara tentang cinta, rindu, dan kehilangan. Tiga emosi sederhana yang nyaris tidak pernah asing di telinga siapa pun. Tapi dalam balutan aransemen khas dangdut ambyaran, ketiganya terasa lebih menusuk, lebih membekas, dan lebih sulit dilupakan.
"Lagu ini mengangkat tema cinta, rindu, dan kehilangan—emosi yang sederhana, namun begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari," ujar Jingga dalam siaran pers yang diterima media, Selasa (14/4).
Dari Lampung Tengah Menuju Panggung Nasional: Kisah Perjuangan yang Tak Pernah Padam
Jingga Vanessa lahir pada 3 Desember 2004. Artinya, usianya masih sangat muda. Tapi jangan lihat angka. Lihatlah perjalanannya. Ia berasal dari keluarga sederhana, bukan dari lingkungan yang penuh kemudahan.
Namun sejak duduk di bangku sekolah dasar, gadis ini sudah tekun melatih vokalnya. Tidak ada panggung besar, tidak ada koneksi luas. Hanya suara dan keyakinan bahwa suatu hari nanti, orang akan mendengarnya.
Perjuangan panjang yang ia jalani dengan konsistensi dan dedikasi akhirnya membuahkan hasil. Salah satu pencapaian terbesarnya adalah saat ia berhasil menyabet Juara 1 dalam ajang Kontes Ambyar Indonesia yang disiarkan oleh MNC TV. Sebuah panggung nasional yang mengukuhkan namanya sebagai salah satu talenta muda potensial di industri musik Indonesia.
"Aku hanya ingin berjuang dan terus menyumbang karya positif bagi industri musik tanah air, khususnya dangdut," sambungnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di baliknya, ada ribuan jam latihan, ada tangis karena lelah, dan ada tekad yang tidak pernah padam meski badai menerpa.