JAKARTA, BisnisMarket.com – Kabar rencana kehadiran tabung gas alam terkompresi atau CNG berukuran 3 kg sempat memicu kekhawatiran di masyarakat. Banyak yang menduga langkah ini bakal menghapus keberadaan LPG 3 kg bersubsidi atau yang akrab disebut Gas Melon. Namun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akhirnya memberikan kepastian penting yang menjawab segala keraguan publik.
dilansir dari Bloomberg Technoz (13/5), Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan masifikasi CNG melalui pengembangan tabung 3 kg bakal dilakukan secara bertahap dan belum direncanakan dikembangkan sangat masif untuk menggantikan Gas Melon.
“Sebenarnya alternatif dan pengganti kan artinya sama ya. Cuma kalau kita bilang pengganti itu masif sama besar, kalau alternatif kita ada tahapan-tahapannya. [Kebijakan] yang benar itu kita ada tahapan-tahapannya,” kata Laode kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (13/5/2026).
Langkah Strategis Kurangi Ketergantungan Impor LPG
Pemerintah menyadari bahwa saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan LPG dari luar negeri. Angka impor LPG mencapai hampir 80 persen dari total kebutuhan nasional. Kondisi ini membuat anggaran negara terbebani berat, apalagi saat harga energi dunia sedang tidak menentu.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menegaskan bahwa pengembangan CNG 3 kg murni ditujukan untuk membuka opsi energi baru bagi masyarakat, sekaligus memutus rantai ketergantungan pada produk impor. “Betul [bukan untuk menggantikan LPG 3 kg secara keseluruhan-read]. Prinsipnya CNG diharapkan bisa menjadi alternatif untuk bisa mengurangi ketergantungan pada LPG yang notebenen hampir 80 persen masih impor,” ujarnya.
Terobosan ini dinilai sangat cerdas karena CNG memiliki keunggulan harga yang jauh lebih bersahabat. Menurut pengamat energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, harga jual CNG diprediksi bisa lebih murah 30 persen hingga 40 persen dibandingkan harga LPG saat ini. Tak hanya itu, emisi yang dihasilkan juga lebih rendah sekitar 20 persen sampai 25 persen, sehingga jauh lebih ramah bagi lingkungan hidup. Bagi negara, dampaknya luar biasa: potensi penghematan subsidi energi bisa mencapai angka 30 persen.
Siap Diterapkan, Tak Perlu Ganti Kompor!
Kabar paling menggembirakan bagi masyarakat adalah soal kemudahan penggunaan. Kementerian ESDM memastikan Anda tidak perlu repot membeli kompor baru atau memasang alat pengonversi tambahan. Kompor yang biasa digunakan untuk Gas Melon, nantinya bisa langsung dipakai untuk CNG.