BISNISMARKET.COM - Pasar modal Indonesia tengah memasuki fase koreksi yang cukup signifikan pada paruh kedua tahun 2026. Koreksi ini terjadi setelah pasar sempat menikmati euforia kinerja yang sangat solid selama periode awal tahun tersebut.
Momen bersejarah bagi bursa saham nasional tercatat pada tanggal 20 Januari 2026. Pada hari tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa di angka 9.134.
Kinerja impresif yang ditunjukkan sepanjang tahun 2025 menjadi fondasi utama bagi optimisme investor di awal tahun 2026. Optimisme ini bahkan memicu munculnya istilah populer "to the moon" di kalangan pelaku pasar modal.
Namun, sentimen positif yang sempat membumbung tinggi tersebut mulai berbalik arah secara drastis. Perubahan arah sentimen pasar ini dipicu oleh perkembangan eksternal yang signifikan.
Pemicu utama dari tekanan pasar yang terjadi belakangan ini adalah adanya gejolak geopolitik global yang memanas. Faktor eksternal ini menjadi variabel tak terduga yang memengaruhi stabilitas pasar domestik.
Dampak dari gejolak geopolitik global ini mulai terasa intensitasnya pada pertengahan tahun. Hal ini memaksa para investor untuk melakukan penyesuaian strategi investasi mereka secara cepat.
Dilansir dari TREN.BISNISMARKET.COM, fase koreksi pasar ini menunjukkan betapa rentannya pasar domestik terhadap dinamika dan ketidakpastian di tingkat global. Pasar memasuki periode yang lebih berhati-hati.
Kinerja solid di awal tahun 2026, yang sempat membuat IHSG mencapai 9.134 pada 20 Januari 2026, kini berhadapan dengan tantangan baru akibat situasi internasional yang tidak menentu.
Pergerakan pasar saat ini mencerminkan pergeseran fokus dari euforia domestik menuju manajemen risiko akibat sentimen global yang negatif. Pasar modal sedang menguji ketangguhan fundamentalnya.