JAKARTA, BisnisMarket.com – Memasuki pekan kedua Maret 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada dalam tekanan yang cukup berat. Setelah mengalami koreksi signifikan pada minggu pertama bulan ini, IHSG diperkirakan akan terus bergerak volatil dengan tren konsolidasi.

Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, Kusfiardi, memberikan analisis mendalam terkait kondisi pasar saat ini, yang menghadapi banyak tantangan dari faktor eksternal dan domestik.

"IHSG kini berada di titik krusial. Kami memperkirakan rentang pergerakan IHSG antara 7.480 hingga 7.750, dengan level 7.500 sebagai support psikologis utama yang harus dipertahankan untuk stabilitas pasar jangka pendek," ungkap Kusfiardi.

Penutupan IHSG pekan lalu di level 7.585 mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap ketidakpastian global yang semakin meningkat, terutama dengan potensi eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz.

"Wilayah ini adalah jalur perdagangan strategis untuk sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Jika harga minyak WTI mencapai lebih dari US$90 per barel, dampaknya bisa sangat besar bagi ekonomi Indonesia, yang masih tergantung pada impor energi," tegas Kusfiardi.

Selain itu, inflasi impor yang dipicu oleh lonjakan harga energi dapat memperburuk daya beli masyarakat dan meningkatkan beban subsidi fiskal pemerintah.

Dari sisi domestik, pasar masih merespons revisi outlook kredit Indonesia oleh Fitch Ratings dari stabil menjadi negatif.

Selain itu, nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi mendekati level Rp17.000 per dolar AS juga menambah beban bagi ekonomi Indonesia, mengingat kebijakan moneter ketat dari Federal Reserve AS yang berdampak pada investor global.