Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin (2/3/2026). Pergerakan pasar modal domestik ini berakhir di zona merah dengan koreksi tajam mencapai 2,65 persen. Kondisi ini menempatkan indeks di level 8.016 akibat sentimen negatif dari rilis data ekonomi terbaru.
Sepanjang hari perdagangan, indeks terus menunjukkan tren penurunan tanpa perlawanan berarti dari aksi beli. Tekanan jual yang sangat masif memaksa IHSG bergerak di rentang 8.133 hingga menyentuh titik terendahnya di 8.016. Investor tampaknya merespons cepat kabar mengenai kenaikan harga barang dan jasa yang melampaui prediksi para analis.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), total nilai transaksi yang tercatat mencapai angka signifikan sebesar Rp29,83 triliun. Aktivitas perdagangan ini melibatkan volume saham sebanyak 56,6 miliar lembar yang berpindah tangan. Frekuensi transaksi pun terpantau sangat aktif dengan catatan mencapai 3,65 juta kali selama sesi berlangsung.
Mayoritas emiten yang melantai di bursa terpantau berguguran seiring dengan sentimen pasar yang memburuk. Tercatat sebanyak 671 saham mengalami pelemahan harga, sementara hanya 108 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Di sisi lain, terdapat 41 saham yang pergerakannya cenderung stagnan hingga penutupan pasar sore ini.
Tekanan tidak hanya dirasakan oleh pasar modal, namun juga merembet ke nilai tukar mata uang Garuda. Kurs Rupiah dilaporkan melemah sebesar 0,54 persen terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan hari ini. Saat ini, posisi mata uang Indonesia berada di level Rp16.861 per US$ yang menunjukkan pelemahan cukup dalam.
Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi merilis data inflasi untuk periode Februari 2026 yang mengejutkan pelaku pasar. Angka inflasi yang dilaporkan ternyata jauh lebih tinggi dibandingkan dengan estimasi yang dibuat oleh para ekonom sebelumnya. Terjadi percepatan kenaikan harga yang cukup signifikan baik secara bulanan maupun tahunan pada periode tersebut.
Realisasi inflasi yang menembus angka 4,76 persen ini menjadi pemicu utama kepanikan di kalangan investor saham. Ekspektasi pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik kini mulai dipertanyakan seiring dengan lonjakan harga yang tak terduga. Pasar kini menantikan langkah strategis dari otoritas moneter untuk meredam gejolak ekonomi yang sedang terjadi.
Sumber: Bloombergtechnoz