JAKARTA, BisnisMarket.com -
Siapa sangka, di balik perjuangan melawan Covid-19, ada bahaya lain yang
mengintai diam-diam. Ribuan kasus kanker seharusnya ditemukan, namun lenyap
begitu saja dari catatan medis. Mengapa bisa terjadi? Dan apa dampak nyata bagi
kita semua? Dilansir dari Bloomberg Technoz diakses pada (2/6), sebuah studi
internasional terbesar baru saja membongkar fakta mengejutkan ini.
Angka yang Mengerikan
Penelitian dari Badan Penelitian Kanker Internasional
di Lyon, Prancis, diterbitkan di The Lancet Oncology, mencatat antara April
hingga Desember 2020, sebanyak 16 persen kasus kanker yang seharusnya tercatat
justru hilang di tujuh negara maju: Australia, Kanada, Denmark, Irlandia,
Selandia Baru, Norwegia, dan Inggris. Secara total, ada sekitar 55.000 kasus
yang tidak terdiagnosis. Data ini diambil dari catatan 2,6 juta pasien di 18
wilayah, menjadi salah satu penilaian paling lengkap dampak pandemi terhadap
deteksi penyakit mematikan ini.
Penurunan paling tajam terjadi pada kanker prostat,
turun hingga 24 persen dari perkiraan. Disusul kanker payudara wanita dan
kanker kulit melanoma, masing-masing berkurang 18 persen. Sementara itu, kanker
paru-paru dan indung teluri relatif lebih sedikit terdampak. Perbedaan mencolok
juga terlihat antarnegara: Norwegia dan Selandia Baru hanya mengalami penurunan
kecil dan pulih cepat, berbeda jauh dengan Inggris dan Irlandia yang membutuhkan
waktu lebih lama. Hal ini membuktikan seberapa besar peran ketangguhan sistem
pelayanan kesehatan.
Mengapa Bisa Terjadi?
Para peneliti menyebutkan tiga alasan utama. Pertama,
program skrining rutin terpaksa dihentikan sementara agar tenaga dan fasilitas
fokus menangani pasien Covid-19. Kedua, akses ke layanan kesehatan dasar
menjadi sangat terbatas dan sulit dijangkau. Ketiga, ketakutan masyarakat
sendiri: banyak orang enggan berobat atau memeriksakan diri karena khawatir
tertular virus saat berada di rumah sakit atau klinik.
“Pemahaman yang lebih mendalam mengenai mengapa
beberapa sistem kesehatan mampu bertahan lebih baik terhadap tekanan pandemi
Covid-19 dapat memberikan pelajaran berharga untuk kesiapsiagaan menghadapi
krisis di masa mendatang,” ujar Isabelle Soerjomataram, wakil kepala Cabang
Surveilans Kanker lembaga tersebut sekaligus penulis senior studi ini.
Bahaya Jangka Panjang
Meskipun pada tahun 2020 dampak langsung pergeseran ke
stadium lanjut belum terlihat jelas, risiko di masa depan sangat nyata.
Penelitian lain di JAMA Oncology memperkirakan, gangguan pelayanan ini di
Amerika Serikat saja berkaitan dengan tambahan sekitar 17.390 kematian akibat
kanker dalam kurun waktu satu tahun setelah diagnosis pada 2020-2021. Semakin
lambat diketahui, semakin sulit penyembuhannya, dan semakin besar risiko nyawa
melayang.