JAKARTA, BisnisMarket.com - Gelombang kenaikan harga plastik sedang menghantam industri dalam negeri. Dalam beberapa pekan terakhir, harga bijih plastik di pasar domestik melonjak tajam bahkan mencapai 30 hingga 70 persen.

Kondisi ini membuat banyak pelaku usaha, mulai dari industri besar hingga UMKM, menghadapi tekanan biaya produksi yang semakin berat.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya angkat bicara mengenai situasi ini. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini pemerintah belum menerima permintaan relaksasi tarif bea masuk dari pelaku industri plastik di Indonesia.

Menurutnya, jika pelaku industri membutuhkan keringanan kebijakan, biasanya prosesnya dimulai melalui koordinasi dengan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia sebelum dibahas bersama Kementerian Keuangan.

“Kalau ada permintaan biasanya lewat Kemenperin dulu, baru kemudian ke saya. Sampai sekarang belum ada,” ujar Purbaya saat memberikan keterangan di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Konflik Global Jadi Pemicu Utama

Lonjakan harga plastik ternyata tidak hanya dipengaruhi faktor dalam negeri. Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat disebut menjadi salah satu pemicu utama terganggunya pasokan bahan baku plastik di pasar global.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah membuat jalur distribusi petrokimia menjadi tidak stabil. Padahal sekitar 22 persen pasokan petrokimia dunia berasal dari wilayah tersebut dan harus melewati jalur strategis di Selat Hormuz.

Ketika jalur distribusi terganggu, biaya logistik meningkat dan pasokan bahan baku seperti nafta maupun LPG menjadi lebih langka. Dampaknya langsung terasa pada harga plastik yang melonjak tajam di berbagai negara, termasuk Indonesia.