TEHERAN, BisnisMarket.com- Tegangan di Timur Tengah semakin memanas seiring dengan tindakan agresif Iran yang terus menyerang negara-negara Arab, mengancam pasokan minyak global.
Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menegaskan bahwa negara tersebut tidak akan berhenti membela diri, menyebut serangan sebagai hak sah Iran untuk merespons "ancaman yang terus berlanjut."
Pernyataan Larijani ini dikeluarkan setelah serangan dari Iran yang menyasar sejumlah pangkalan militer di wilayah yang kini menjadi titik panas konflik.
"Ketika musuh menyerang kami dari pangkalan di wilayah tersebut, kami merespons dan akan terus merespons. Itu adalah hak kami dan itu adalah kebijakan yang berdiri," tegas Larijani dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh kantor berita resmi Iran pada Minggu (8/3/2026).
Ketegangan ini telah mempengaruhi harga minyak dunia, yang kini berada pada level tertinggi sejak September 2024.
Harga BBM di Amerika Serikat melonjak tajam, dengan harga minyak mentah berjangka AS yang melewati angka US$90 per barel, lebih dari US$20 lebih tinggi dibandingkan pekan lalu. Kenaikan ini menjadi yang terbesar sejak data harga minyak tercatat pada tahun 1980-an, menyebabkan kekhawatiran tentang dampaknya terhadap perekonomian global.
Lebih jauh lagi, serangan udara Israel pada depot-depot minyak Iran di wilayah Kuhak dan Shahran di Teheran, serta kota Karaj, semakin memperburuk situasi.
Israel menargetkan fasilitas-fasilitas yang menjadi bagian penting dari infrastruktur energi Iran, yang bertujuan untuk melemahkan kemampuan negara tersebut dalam melanjutkan agresi di kawasan.
Di sisi lain, negara-negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab (UEA) dan Kuwait, sedang berjuang keras untuk menjaga stabilitas produksi minyak mereka di tengah serangan Iran.