BISNIS MARKET - Dua tokoh politik asal Jawa Barat, Rieke Diah Pitaloka (akrab disapa Oneng) dan Dedi Mulyadi (akrab disapa KDM atau Kang Dedi), sering menjadi sorotan publik berkat interaksi mereka yang unik, kritis, namun tetap diselingi gaya khas Sunda yang jenaka.

Meskipun berasal dari partai yang berbeda Rieke dari PDI Perjuangan dan Dedi Mulyadi dari Partai Gerindra (sebelumnya Golkar) keduanya berbagi basis daerah pemilihan yang sama, yaitu Dapil Jawa Barat VII (meliputi Kabupaten Bekasi, Karawang, dan Purwakarta), dan sama-sama dikenal sangat vokal terhadap isu-isu kerakyatan.

Interaksi paling mencolok antara Rieke dan Dedi Mulyadi sering terjadi dalam konteks kritik terhadap pembangunan infrastruktur dan kebijakan publik di Jawa Barat. 

Rieke, yang memanfaatkan masa resesnya untuk turun langsung ke masyarakat, kerap menyampaikan keluhan warga kepada Dedi Mulyadi, yang memiliki pengaruh besar di Jawa Barat (mantan Bupati Purwakarta dan tokoh politik nasional).

Salah satu momen yang paling viral adalah ketika Rieke membuat video sambil bergaya sebagai "Nyi Iroh" di tengah jalan rusak parah di Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi. 

Dalam video tersebut, Rieke secara langsung "melaporkan" kondisi jalan yang hancur kepada "Kang Dedi," meminta bantuannya agar warga segera mendapatkan perbaikan.

Dedi Mulyadi menanggapi laporan Rieke dengan humor dan keseriusan sekaligus. Ia sempat mempertanyakan status jalan tersebut (apakah jalan kabupaten atau provinsi) karena hal itu menentukan kewenangan perbaikan. 

Namun, Dedi berjanji akan segera berkoordinasi dengan Bupati Sukabumi agar perbaikan jalan tersebut menjadi prioritas.

Rieke membalas dengan kritik yang satir, menyamakan jalan rusak sebagai sesuatu yang "haram karena memabukkan" (mabuk akibat jalan butut), dan menegaskan bahwa kejelasan status jalan adalah kunci untuk mengurus anggaran perbaikan.